Kamis, 11 Agustus 2011

Tanda I'rob Kalimat Fi'il Mu'tal

وَأَيُّ فِعْــلٍ آخِرٌ مِنْهُ أَلِفْ ¤ أوْ وَاوٌ أوْ يَاءٌ فَمُعْتَلاًّ عُرِفْ

Setiap Kalimah Fi’il yang akhirnya huruf illat Alif , Wau atau Ya’, maka dinamakan Fi’il Mu’tal.

فَالأَلِفَ انْوِ فِيْهِ غَيْرَ الْجَزْمِ ¤ وَأَبْـــدِ نَصْبَ مَا كَيَدْعُو يَرْمِي

Kira-kirakanlah! I’rab untuk Kalimah Fi’il yang berakhiran Alif pada selain Jazmnya. Dan Zhohirkanlah! tanda nashab untuk Kalimah Fi’il yang seperti يَدْعُو (Berakhiran huruf Wau) dan يَرْمِي (Berakhiran huruf Ya’)…

والرَّفعَ فِيْهِمَا انْوِ وَاحْذِفْ جَازِمَا ¤ ثَــلاَثَـــهُنَّ تَقـْـــضِ حُكمَــا لازِمَــــا

dan kira-kirakanlah! tanda Rofa’ untuk kedua lafadz (يَدْعُو dan يَرْمِي ). Buanglah (huruf-huruf illat itu) dimana engkau sebagai orang yang menjazmkan ketiga Kalimah Fi’il Mu’tal tsb, maka berarti engkau memutuskan dengan Hukum yang pasti.
Disebutkan dalam bait-bait ini tentang kalimah yang mu’tal bagian kedua. Yaitu kalimah Mu’tal untuk kata kerja/kalimah Fi’il. Adalah pembahasan terakhir dari kitab Alfiyah Bab Mu’rab dan Mabni. Merupakan bagian ketujuh dari tanda-tanda irab niyabah atau irab pengganti asal.
Pengertian kalimah Fi’il Mu’tal adalah: setiap kalimah Fi’il yang berakhiran huruf wau setelah harakat dhammah, atau berakhiran huruf ya’ setelah harakat kasrah, atau berakhiran alif setelah harakat fathah. Maksud dari kalimah Fi’il dalam hal ini adalah Fi’il Mudhari’. Sebab asal pembahasan mengenai kalimah Mu’rab.
Tanda I’rab Fi’il Mu’tal:
(1). Mu’tal Alif:
Rafadengan Dhammah yang dikira-kira atas alif, dicegah i’rab zhahirnya karena udzur, contoh:

الْمُتَّقِيْ يَخْشَى رَبَّهُ

Orang yang bertaqwa adalah dia yang takut kepada Tuhannya.

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Nashab dengan fathah yang dikira-kira atas alif. contoh:

لَنْ يَرْضَى الْعَاقِلُ بِاْلأَذَى

seorang yang berakal tidak akan rela disakiti.

وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقََى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إلاَّ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu
Jazm dengan membuang huruf Illah Alif, dan harakat Fathah adalah sebagai buktinya. contoh:

الْعَاصِيْ لَمْ يَخْشَ رَبَّهُ

Orang yang suka maksiat adalah dia yang tidak takut kepada Tuhannya.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi
°
(2). Mu’tal Wau:
Rafa‘ dengan dikira-kira atas wau, dicegah i’rab zhahirnya karena berat. contoh:

الْمُوَحِّدُ لاَ يَدْعُوْ إلاَّ اللهَ

Seorang yang meyakini keesaan Allah, dia tidak menyeru kecuali kepada-Nya.

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ

Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu
Nashab dengan harakat Fathah zhahir atas wau, karena paling ringnnya harakat. contoh:

لَنْ يَسْمُوَ أَحَدٌ إلاَّ بِأَدَبِهِ

seseorang tidak akan dipandang kecuali dengan budi perkertinya.

لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا

kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia
Jazm dengan membuang huruf Illah Wau, dan harakat Dammah adalah sebagai buktinya. contoh:

لا تَدعُ على أولادك

Jangan.. berdo’a jelek untuk anak-anakmu…!

فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ

Maka biarlah dia memanggil golongannya.
°
(3). Mu’tal Ya’:
Rafa‘ dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya’, dicegah i’rab zhahirnya karena berat, contoh:

أَنْتَ تُرَبِّيْ أَوْلاَدَكَ عَلَى الْفَضِيْلَةِ

Kamu didik anak-anakmu dengan kemulyaan.

لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ يُحْيِِيْ وَيُمِيْتُ

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan.
Nashab dengan harakat Fathah Zhahir atas Ya’, karena merupakan peling ringannya harakat. contoh:

لَنْ تُعْطِيَ الْفَقِيْرَ شَيْئاً إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهِ

Jangan berikan sesuatupun kepada orang faqir kecuali engkau diganjar untuk itu.

قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى

(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?”
Jazm dengan membuang huruf Illah berupa Ya’, dan harakat Kasrah merupakan buktinya. contoh:

لاَ تُؤْذِ جَارَكَ بِقُتَارِ قِدْرِكَ

Jangan sakiti hati tetanggamu dengan bau asap periukmu…!

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya
Kesimpulan pembahasan: Fi’il Mu’tal adalah Fi’il yang berakhiran Alif, Wau atau Ya’. Semua i’rabnya dikira-kira atas Alif selain Jazm. Dan untuk yang berakhiran wau atau ya’, zhahirkan pada nashabnya dan dikira-kira pada rafa’nya. Dan semua fi’il mu’tal tanda jazemnya dengan membuang huruf illah.
Categories: Bait 49-50-51 Tag:

Isim Maqshur dan Isim Manqush: definisi dan tanda I’rabnya » Alfiyah Bait 46-47-48

◊◊◊

وَسَمِّ مُعْتَلاًّ مِنَ الأَسْمَاءِ مَا ¤ كَالْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَقَي مَكَارِمَا

Namailah! Isim Mu’tal, terhadap Isim-Isim yang seperti lafadz الْمُصْطَفَى (Isim yang berakhiran huruf Alif) dan seperti lafadz الْمُرْتَقَي مَكَارِمَا (Isim yang berakhiran huruf Ya’).

فَالأَوَّلُ الإِعْرَابُ فِيْهِ قُدِّرَا ¤ جَمِيْـعُهُ وَهْوَ الَّذِي قَدْ قُصِرَا

Contoh lafadz yang pertama (الْمُصْطَفَى) Semua tanda I’rabnya dikira-kira, itulah yang disebut Isim Maqshur.

وَالْثَّانِ مَنْقُوصٌ وَنَصْبُهُ ظَهَرْ ¤ وَرَفْـعُهُ يُنْــوَى كَذَا أيْضَــــاً يُجَرْ

Contoh lafadz yang kedua (الْمُرْتَقَي) dinamakan Isim Manqush, tanda Nashabnya Zhohir. Tanda Rofa’ dan juga Jarrnya sama dikira-kira.
Setelah menerangkan tentang tanda I’rab Kalimah-kalimah Isim dan Fi’il yang shahih, dan pada Bait-bait selanjutnya akan menerangkan tentang tanda i’rab untuk Isim Mu’tal dan Fi’il Mu’tal. Dimulai dari bait diatas dengan tanda Irab untuk Kalimah Isim Mu’tal. dalam hal ini terdapat dua isim Mu’tal yaitu Maqshur dan Manqush:
°°°
ISIM MAQSHUR المقصور

Definisi Maqshur adalah: Kalimah Isim Mu’rob yang berakhiran Alif Lazim. contoh فَيَى – عَصَى – رَحَى. Keluar dari definisi Maqshur adalah: رَمَى – يَخْشَى (Kalimah Fi’il). عَلى (Kalimah Huruf). مَتَى (Isim Mabni). الْهَادِيْ (berakhiran Ya’). زَيْدَانِ (Berakhiran Alif tidak Lazim).
Irab Isim Maqshur :
Di-i’rab dengan Harakat Muqaddar/dikira-kira atas Alif pada semua keadaan i’rabnya. Sebab yang mencegah i’rab zhahirnya karena udzur. Contoh Imamuna As-Syafi’i berkata:
contoh ketika Rafa’:

أَهَمُّ الْمَطَالِبِ رِضَا اللهِ

Paling pentingnya pengharapan adalah mengharap Kerelaan Allah
contoh ketika Nashab:

إِنَّ رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ

Sesungguhnya kerelaan manusia adalah batas yang belum final.
contoh ketika Jar:

اِحْرِصْ عَلَى رِضَا وَالِدَيْكَ

Tamaklah..! terhadap kerelaan kedua orang tuamu !
Allah berfirman:

ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.
°°°
ISIM MANQUSH المنقوص
Definisi Manqush adalah: Kalimah Isim Mu’rob yang berakhiran Ya’ Lazim tidak bertasydid dan berada setelah harakat Kasrah . Contoh القَضِيْ – السَّاعِيْ – الوَافِيْ. Keluar dari definisi Maqshur adalah: يَعْطِيْ (Kalimah Fi’il). فِيْ (Kalimah Huruf). الذِيْ (Isim Mabni). الْفَتَىْ (berakhiran ِAlif layyinah/Ya’ maqshur). زَيْدَيَنِ (Berakhiran Ya’ tidak Lazim). ظَبْيٌ (jatuh sesudah sukun) كُرْسِيٌّ (Ya’ bertasydid). Untuk Lafazh ظَبْيٌ dan كُرْسِيٌّ tetap di-i’rab dengan harakat zhahir, Firman Allah:

فَأَذَاقَهُمُ اللهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ

Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri
°
Tanda I’rab Isim Manqush, apabila ia dimasuki AL atau menjadi Mudhaf maka huruf Ya’-nya ditetapkan:
Tanda Rofa’-nya dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya. Juga tanda Jar-nya dengan Kasrah yang dikira-kira atas Ya’. Sedangkan sebab yang menjadikan tercegahnya Harakat secara zhahir karena berat mengucapkannya » rujukan lihat pada Kaidah I’lal ke 5.
contoh ketika Rofa’ bersama AL:

السَّاعِيْ لِلْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

orang yang bertugas untuk kebaikan sama halnya dengan orang yg berbuat kebaikan itu sendiri.
contoh ketika Rofa’ menjadi Mudhaf:

جَاءَ قَاضِي الْقُضَاةِ

Hakim agung telah datang.
contoh ketika Jar bersama AL:

عَلَى الْبَاغِيْ تَدُوْرُ الدَّوَائِرُ

balasan atas orang yang aniaya, bencana akan kembali padanya (karma tetap berlaku)
contoh ketika Jar menjadi Mudhaf:

سَلَّمْتُ عَلَى قَاضِي الْقُضَاةِ

aku memberi salam pada Hakim agung.
Terkadang huruf Ya’ nya dibuang ketika rafa’ atau jar, sebagai penunjukan bahwa sebelum Ya’ berharakat kasrah, maka berlaku juga Isim Manqush yang bersamaan AL dan tanpa tanwin, seperti berlakunya Isim Manqush yang tanpa AL dengan ditanwin. contoh:
contoh ketika Rafa’

يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَى شَيْءٍ نُكُرٍ

(Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan)
contoh ketika Jar

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku
Tanda Nashab Isim Manqush yg dimasuki AL atau menjadi Mudhaf tersebut, adalah Nashab dengan Harakat Zhahir.
contoh besamaan dengan AL

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Rasulullah melaknat orang yang memberi suap dan orang yang menerima suap.
contoh menjadi mudhaf

رأيت قاضيَ القُضَاةِ

Aku melihat Hakim Agung

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ

Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah
°
Tanda I’rab Isim Manqush, apabila ia tanpa AL atau tidak Mudhaf maka huruf Ya’-nya dibuang dan mendatangi Tanwin ketika Rafa’ dan Jar. Atau Ya’-nya ditetapkan ketika Nashab:
Tanda Rofa’-nya dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya yang dibuang. Juga tanda Jar-nya dengan Kasrah yang dikira-kira atas Ya’ yang dibuang. Sedangkan sebab terbuangnya Ya’ tersebut, karena bertemunya dua mati yaitu Ya’ Manqush dan Tanwin » rujukan lihat pada Kaidah I’lal ke 5.
contoh Rafa’ :

الْمُؤْمِنُ رَاضٍ قَانِعٍ

Sorang Mu’min adalah seorang yang suka rela dan menerima apa adanya.

إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.
contoh Jar :

رُبَّ سَاعٍ لِقَاعِدٍ

Mungkin kali… seorang yg berusaha orang yg duduk-duduk (usaha bung…!)

وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.
Tanda Nashab-nya dengan Fathah yang Zhahir/terang contoh:

سَمِعْتُ مُنَادِياً يُنَادِيْ لِلصَّلاَةِ

Aku mendengar seorang pemanggil sedang memanggil untuk shalat.

وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong

I’rab Af’alul Khamsah/kata kerja yang lima » Keterangan Alfiyah Bait 43-44

◊◊◊

وَاجْعَلْ لِنَحْوِ يَفْعَلاَنِ الْنُّوْنَا ¤ رَفْـعَاً وَتَدْعِــيْنَ وَتَسْـــــأَلُونَا

Jadikanlah! Nun sebagai tanda Rofa’ untuk contoh Kalimah-kalimah yang seperti lafadz يفعلان (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Alif Tatsniyah) dan lafadz تدعين (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Ya’ Mu’annats Mukhatabah) dan lafadz تسألون (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Wau Jamak)

وَحَذْفُهَا لِلْجَزْمِ وَالْنَّصْبِ سِمَهْ ¤ كَلَمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

Sedangkan tanda Jazm dan Nashabnya, yaitu dengan membuang Nun. seperti contoh َلمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

Setelah selesai menerngkan tentang I’rab pengganti untuk kalimah isim, selanjutnya bait menerangkan tentang I’rab pengganti untuk kalimah Fi’il. yaitu i’rab untuk Amtsilatul Khamsah atau Af’alul Khamsah atau contoh-contoh kalimah Fi’il yang lima.
Pengertian Af’alul Khamsah/Fi’il yang lima adalah: Setiap kalimah fi’il mudhari’ yang tersambung dengan Alif Tatsniyah, Wau jama’ atau Ya’ muannats mukhatabah.
Rinciannya sebagai berikut:
  • Fi’il Mudhari’ yang tersambung dengan Alif Tatsniyah terdapat 2 bentuk (berawalan huruf mudhara’ah Ya’ / Ta’ ) ada 4 penggunaan
  • Fi’il Mudhari’ yang tersambung dengan Wau Jama’  terdapat 2 bentuk (berawalan huruf mudhara’ah Ya’ / Ta’) ada 2 penggunaan
  • Fi’il Mudhari’ yang tersambung dengan Alif Tatsniyah terdapat 1 bentuk (berawalan huruf mudhara’ah Ta’) ada1 penggunaan
Lihat tabel berikut, Af’alul Khamsah ditandai warna oranye:
DIGUNAKAN UNTUKFI’IL AMARFI’IL MUDHARI’FI’IL MADHI
ORANG
KETIGA
MALE
TUNGGAL

×

يَنْصُرُ

نَصَرَ

DUAL

×

يَنْصُرَانِِ

نَصَرَا

JAMAK

×

يَنْصُرُوَْنَ

نَصَرُوْا

ORANG
KETIGA
FEMALE
TUNGGAL

×

تَنْصُرُ

نَصَرَتْ

DUAL

×

تَنْصُرَانِِ

نَصَرَتَا

JAMAK

×

يَنْصُرْنَ

نَصَرْنَ

ORANG
KEDUA
MALE
TUNGGAL

اُنْصُرْ

تَنْصُرُ

نَصَرْتَ

DUAL

اُنْصُرَا

تَنْصُرَانِ

نَصَرتُمَا

JAMAK

اُنْصُرُوْا

تَنْصُرُوْنَ

نَصَرْتُمْ

ORANG
KEDUA
FEMALE
TUNGGAL

اُنْصُرِيْ

تَنْصُرِيْنَ

نَصَرْتِ

DUAL

اُنْصُرَا

تَنْصُرَانِِ

نَصَرْتُمَا

JAMAK

اُنْصُرْنَ

تَنْصُرْنَ

نَصَرْتُنَّ

ORANG
PERTAMA
MALE/
FEMALE
TUNGGAL

×

أَنْصُرُ

نَصَرْتُ

DUAL/JAMAK

×

نَنْصُرُ

نَصَرنَا

Tanda I’rab Af’alul Khamsah adalah:
Rafa’ dengan tetapnya Nun sebagai ganti dari Dhammah. contoh:

هُمْ يَفْعَلُوْنَ

mereka (lk) bekerja

هُمَا يَفْعَلاَنِ / تَفْعَلاَنِ

mereka berdua (lk/pr) berkerja

أَنْتُمْ تَفْعَلُوْنَ

kalian (lk) bekerja

أَنْتُمَا تَفْعَلاَنِ

kamu berdua (lk/pr) bekerja

أَنْتِ تَفْعَلِيْنَ

kamu seorang (pr) bekerja
Contoh Firman Allah:

وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
Nashab dan Jazem  dengan membuang Nun sebagai ganti dari Fathah dan Sukun. contoh:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ

Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka
Categories: Bait 44-45 Tag:

Isim tidak munsharif/ghair munawwan, jar dengan fathah syarat tidak mudhaf atau tanpa AL » Alfiyah Bait 43

◊◊◊

وَجُــرَّ بِالْفَتْحَـةِ مَـالا يَنْصَرِفْ ¤ مَالَمْ يُضَفْ أَوْيَكُ بَعْدَ ألْ رَدِفْ

Jar-kanlah olehmu…! dengan tanda Fathah terhadap Isim yang tidak munsharif, selagi tidak dimudhafkan atau tidak berada setelah AL dengan mengekorinya

Diterangkan dalam Bait ini, bagian kedua dari Isim yang di-i’rab dengan harakat pengganti dari harakat asal. Yaitu Isim yang tidak Munsharif atau Isim ghair Munawwan atau isim yang tidak ditanwin.
Definisi Isim tidak munsharif adalah: setiap kalimah  isim mu’rab yang menyerupakan kalimah fi’il didalam hal terdapatnya dua illat dari sembilan illat, atau terdapat satu illat yg menempati maqom dua illat.
Contoh lafazh terdapat dua illat أَخْمَدُ “Ahmad” (Alami dan Wazan Fi’il) عَطْشَانُ “yg haus” (Sifat dan Ziadah Alif-Nun). contoh lafazh satu illat مَسَاجِدَ “Masjid-masjid” (bentuk/shighat Muntahal Jumu’).
Mengenai penyebab yang mencegah ditanwinkannya kalimah isim, dalam hal ini ada bab khusus yang akan diterangkan secara jelas disana –insyaAllah–. sedangkan dalam Bait ini, dimaksudkan mengenai hubungan dengan tanda I’rabnya. Rofa’ dengan Dhammah (i’rab asal), Nashab dengan Fathah (i’rab asal) dan Jar dengan Fathah (menggantikan i’rab asal Kasrah) contoh:

َجَاءَ أَحْمَدُ رَأَيْتُ أَحْمَدَ مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ

Ahmad datang, Aku melihat Ahmad, Aku berjumpa dengan Ahmad.

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ

Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا ِللهِ حَنِيفًا

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya
Sebagai pengecualian tetap Jar dengan tanda  i’rab asal atau Kasrah,  bilamana Isim tidak munsharif/ghair munawwan tersebut berada pada dua posisi :
(1). Menjadi Mudhaf. contoh:

مَرَرْتُ بِأَحْمَدِكُمْ

Aku berjumpa dengan Ahmad-mu

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
Tapi jika posisinya sebagai Mudhaf Ilaih, maka tetap berlaku tanda irab pengganti Jar dengan Fathah. contoh

هَذَا كِتَابُ أَحْمَدَ

Ini kitab Ahmad

إِنَّ اللهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).
(2).  Dimasuki huruf AL (ال). contoh:

سَأَلْتُ عَنْ اْلأَفْضَلِ مِنَ الطُّلاَّبِ

Aku bertanya tentang siswa terbaik dari para siswa

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.
Kesimpulan pembahasan Bait:
Jarkanlah dengan Fathah sebagai pengganti dari i’rab asal Kasrah, terhadap isim yang tidak munsharif/ghair munawwan dengan syarat tidak mudhaf atau tidak dimasuki oleh AL yang mubasyaroh bertemu langsung tanpa pemisah.
Categories: Bait 43 Tag:

Mulhaq Jama’ Muannats Salim أُوْلاَتُ dan أَذْرِعَاتٍ » Penjabaran Alfiyah Bait 42

◊◊◊ 

كَذَا أُوْلاَتُ وَالَّذِي اسْمَاً قَدْ جُعِلْ ¤ كَــــأَذْرِعَــاتٍ فِــيْهِ ذَا أَيْــضَاً قُــبِلْ

Demikian  juga (Dii’rab seperti Jamak Muannats Salim) yaitu lafadz “Ulaatu”. Dan Kalimah yang sungguh dijadikan sebuah nama seperti lafadz “Adri’aatin” (nama tempat di Syam) yang demikian ini juga diberlakukan I’rab seperti Jamak Mu’annats Salim

Bait ini menerangkan tentang i’rab Isim-isim yang dimulhaq-kan pada Jama’ Muannats Salim. Dalam hal ini ada dua kategori:
(1). Lafadz أُوْلاَتُ . tanda irabnya diikutkan pada Jamak Muannats Salim, dimana ia tidak memenuhi syarat definisi Jama’ Muannats Salim,  karena secara Lafazh ia tidak memiliki bentuk mufrad, dan secara makna ia jamak , mempunyai arti: mereka (jamak female) Si empunya . contoh:

وَإِنْ كُنَّ أُوْلاَتُ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin
(2). Lafazh yang dijadikan sebuah nama (Isim Alam) dari asal lafazh jama’ muannats salim. Maka menjadi Isim Alam dan secara otomatis bisa dipakai untuk mudzakkar dan muannats (male/female). Seperti contoh lafazh أَذْرِعَــاتٍ asal dari bentuk jamak أذرعة dengan bentuk mufrad ذراع kemudian menjadi  أَذْرِعَـاتٍ sekarang menjadi sebuah nama negri dari wilayah pinggiran Syam. Terdapat tiga Madzhab dalam menghukumi tanda Irab Isim yang sejenis أَذْرِعَاتٍ:
Madzhab pertama (Madzhab yg Shahih): dii’rab seperti lafazh Jamak Muannats Salim sebagaimana ketika belum dijadikan sebuah nama berikut di-tanwin. contoh:

هَذِهِ أَذْرِعَاتٌ وَرَأَيْتُ أَذْرِعَاتٍ وَمَرَرْتُ بِأَذْرِعَاتٍ

Ini negri Adri’at, aku melihat negri Adri’at, aku melewati negri Adri’at.
Madzhab kedua: menghukumi Rofa’ dengan dhammah, jar dan nashab dengan kasrah berikut menghilangka tanda tanwin. contoh:

هَذِهِ أَذْرِعَاتُ وَرَأَيْتُ أَذْرِعَاتِ وَمَرَرْتُ بِأَذْرِعَاتِ

Ini negri Adri’at, aku melihat negri Adri’at, aku melewati negri Adri’at.
Madzhab ketiga: menghukumi Rafa’ dengan dhammah, Jar dan Nashab dengan Fathah beserta menghilangkan Tanwin, seperti Isim tidak munsharif (ber-illat Alami beserta Mu’annats Ma’nawiy). contoh:

هَذِهِ أَذْرِعَاتُ وَرَأَيْتُ أَذْرِعَاتَ وَمَرَرْتُ بِأَذْرِعَاتَ

Ini negri Adri’at, aku melihat negri Adri’at, aku melewati negri Adri’at.
Contoh Syahid syair untuk lafazh أَذْرِعَاتٍ (nama tempat di negeri Syam) boleh di-i’rab sesuai ketiga Madzhab diatas. Syair bahar Thawil  oleh Imru-ul Qais bin Hujr al-Kindi (130 SH. – 80 SH. / 497 – 535 M.)

تَنَوَّرْتُها مِنْ أذْرِعاتٍ وَأهْلُهَا ¤ بِيَثْربَ أدْنَى دَارِهَا نَظَرٌ عَالِى

dari kejauhan….
Kupandang api unggun negri Adri’at…
pada penduduknya yg berada di kota Yatsrib…
terasa paling terdekatnya rumah negri Adri’at…
adalah pemandangan yg bernilai seni tinggi…

Seperti lafazh أَذْرِعَاتٍ yaitu contoh lafazh عَرَفَاتٍ di dalam Al-Qur’an :

فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril-haram
Kesimpulan penjelasan Bait : bahwa lafazh أُوْلاَتُ ditandai dengan kasrah didalam Jar dan Nashabnya di-mulhaq-kan/mengikuti irab jamak muannats salim. demikian juga lafazh yang dijadikan sebuah nama (أَذْرِعَاتٍ) dari asal bentuk lafazh  jamak muannats salim.
Categories: Bait 42 Tag:

Definisi Jama’ Muannats Salim dan I’rabnya » Kajian Alfiyah Bait 41

◊◊◊ 

وَمَــــــا بِتَـا وَأَلِـــفٍ قَدْ جُمِعَـــــــا ¤  يُكْسَرُ فِي الْجَرِّ وَفي النَّصْبِ مَعَا

Adapun kalimah yang di-jamak-kan dengan menambah Alif dan Ta’ (Jama’ Muannats Salim), adalah ditandai harakat kasrah didalam Jar dan Nashabnya secara bersamaan.
Setelah rampung penjelasan tentang kalimah-kalimah yang di-i’rab dengan huruf sebagai pengganti dari i’rab asal harakat, yaitu tanda I’rab Asmaus-Sittah, Isim Mutsanna dan Jama’ Mudzakkar Salim pada bait-bait sebelumnya.  Selanjutnya  Kiyai Mushannif Alfiyah Muhammad Ibnu Malik –semoga Allah Merahmatinya– menerangkan tentang Kalimah-kalimah yang di-i’rab dengan Harakat sebagai ganti dari Harakat tanda i’rab asal. Dalam hal ini terdapat dua kategori, yang pertama adalah dalam Bait ke 41 ini.  Yaitu kalimah yang di-jamak-kan dengan tambahan Alif dan Ta’ (ا – ت / alif zaidah dan ta’ zaidah) atau dinamakan Jamak  Muannats Salim.
◊◊◊
Definisi Jama’ Muannats Salim adalah: Lafazh yang menunjukkan lebih banyak dari dua, disebabkan oleh penambahan dua huruf Alif dan Ta’ Zaidah di akhirnya. contoh:

حَضَرَتِ الْمُتَحَجِّبَاتِ

Para wanita berjilbab telah hadir
*Maka  lafazh الْمُتَحَجِّبَاتِ pada contoh ini adalah lafadz jamak dengan tambaha alif dan ta’,  Jama’ Mu’annats Salim.
◊◊◊
Tanda I’rab Jama’ Muannas Salim adalah: Rafa’ dengan Dhammah (i’rab asal), Jar dengan Kasrah (i’rab asal) juga Nashab dengan Kasrah (pengganti i’rab asal Fathah). contoh:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.

وَعَدَ اللهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai

لِيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.
◊◊◊
Dua kategori bukan Jamak Mu’annats Salim adalah: 1. Lafazh Jama’ ada Alif dan Ta’ di akhirnya tapi bukan Alif Zaidah, contoh:

قُضَاةٌ وَ دُعَاةٌ

Para hakim dan para pendakwa
Dua lafazh ini, berupa Alif asli salinan dari asal huruf  kalimah sebelum proses I’lal. asal bentuknya adalah قُضَيَةٌ  ya’ diganti alif karena jatuh sesudah fathah, dan دُعَوَةٌ wau juga diganti alif karena jatuh sesudah harakat fathah. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada page Kaidah I’lal ke 1: http://nahwusharaf.wordpress.com/belajar-ilal/kaidah-ilal/kaidah-ilal-ke-1/
2. Lafazh Jama’ ada Alif dan Ta’ di akhirnya tapi  bukan Ta’ Zaidah, contoh:

أَبْيَاتٌ، أَمْوَاتٌ، أَصْوَاتٌ

Bait-bait, Mayat-mayat, Suara-suara
Contoh ini, huruf Ta’-nya adalah asli kalimah bukan tambahan, lafazh mufradnya adalah بَيْتٌ، مَيِّتٌ، صَوْتٌ
Dua kategori lafazh-lafazh  jamak tersebut bukan Bab Jamak Muannats Salim, karena lafazh menunjukkan jamak bukan karena sebab Alif dan Ta’. akan tetapi termasuk pada kategori bentuk Jamak Taksir, dinashabkan dengan tanda irab asal yaitu Fathah.  contoh:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوا لَهُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?
◊◊◊
Kesimpulan penjelasan Bait 41: Sesungguhnya Lafazh yang di jamak sebab tambahan Alif dan Ta’, di-i’rab dengan harakat kasrah ketika Jar dan Nashab secara bersamaan. Penyebutan Jar dengan tanda kasrah,  bukan sebagai penggati asal. Sedangkan penyebutan Nashab dg kasrah adalah pokok pembahasan dalam Bait kali ini, yaitu bagian pertama dari tanda i’rab dg harakat pengganti dari i’rab harakat asal.
Categories: Bait 41 Tag:

Syawahid Syair harakat Nun Jamak Mudzakkar Salim dan Mutsanna » Penjelasan Alfiyah Bait 39-40

وَنُوْنَ مَجْمُوْعٍ وَمَا بِهِ الْتَحَقْ ¤ فَافْــتَحْ وَقَــلَّ مَنْ بِكَــسْرِهِ نَطَــقْ

Fathah-kanlah…! terhadap Nun-nya Jamak Mudzakkar Salim berikut Isim yang mulhaq kepadanya.  Ada sedikit orang Arab yang berucap dengan meng-kasrahkannya.

وَنُوْنُ مَا ثُنِّيَ وَالْمُلْحَقِ بِهْ ¤ بِعَـــكْسِ ذَاكَ اسْتَعْمَلُوْهُ فَانْتَبِهْ

Adapun Nun-nya Isim yang di-tatsniyah-kan berikut mulhaqnya, mereka (orang Arab) mengamalakannya dengan kebalikan Jamak mudzakkar salim (yakni, Nun Tatsniyah lebih banyak diamalkan dengan harakat kasrah) maka perhatikanlah…!
Huruf Nun (ن) yang ada pada akhir kalimah isim Jama’ Mudzakkar Salim, yang masyhur diucapkan dengan harakat Fathah untuk semua keadaan i’rabnya. Demikian juga di-harakat fathah, untuk Nun yang ada pada isim mulhaq jamak mudzakkar salim. Tidaklah maksud pengharkatan huruf Nun ini sebagai tanda i’rab, melainkan ia di-i’rab dengan huruf.
Ditemukan juga pada sebagian orang Arab (secara Syadz) meng-kasrahkan Huruf Nun setelah Ya’  (yakni, ketika keadaan Nashab dan Jar) pada Jama’ Mudzakkar salim dan Mulhaq-nya.  Sebagaimana termaktub dalam Syawahid Syair :
Syair Bahar Wafir oleh Jarir Bin ‘Athiyyah seorang penyair dari Bani Tamim (28 – 110 H. / 648 – 827 M.)  :

عَرَفْنَا جَعْفَراً وَبَني أبِيهِ ¤ وَأَنْكَرْنَا زَعَانِفَ آخَرِينِ

Kami kenal baik dengan Ja’far  dan putra-putra dari ayahnya (Bani Abi Ja’far) …dan kami mengingkari terhadap Zi’nifah-zi’nifah (bagian kolompok pengikut) yang lain.
* Lafadz آخَرِيْنِ huruf Nun dikasrahkan bersamaan ia adalah Jamak Mudzakkar Salim. Nashab menjadi sifat bagi isim maf’ul زَعَانِفَ.
Juga Syair bahar Wafir oleh Penyair Suhaim bin Wusail Ar-Riyyahi  (40 SH. – 60 H. / 583 – 680 M.)

أَكُلَّ الدَّهْرِ حِلٌّ وارْتِحَالٌ ¤ أَمَا يُبْقِيْ عَلَيَّ وَلاَ يَقِيْنِي

apakah tetap berlangsung pada setiap masa … berdiam dan pergi ….tidakkah masa membiarkanku menetap… dan memastikanku…. ???

وَمَاذَا تَبْتَغِي الشُّعَرَاءُ مِنِّي ¤ وَقَدْ جَاوَزْتُ حَدَّ الأَرْبَعِيْنِ

ooo…gerangan apa… mereka para penyair akan memperdayaiku ….sungguh masa ini telah aku lewati selama kurun masa empat puluh tahun ….
* Lafadz الأَرْبَعِيْنِ huruf Nun dikasrahkan bersamaan ia adalah Isim Mulhaq Jamak Mudzakkar Salim majrur menjadi mudhaf ilaih.
Tidaklah kasrah pada Nun jamak salim dan mulhaqnya tersebut merupakan logat arab, ikhtilaf bagi mereka yang berdalih sepert itu. Adapun Huruf Nun pada Isim Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya, yang masyhur di-harkati kasrah, sedangkan diharkati Fathah adalah merupakan logat bagi sebagian orang arab.  sebagaimana contoh syawahid syair :
Syair dalam Bahar  Thawil oleh Shahabah Nabi Humaid bin Tsaur Al-Hilaliy ra.  (? – 30 H. / ? – 650 M.)

عَلَى أَحْوَذِيَّيْنَ اسْتَقَلَّتْ عَشِيَّةً ¤ فَمَا هِيَ إِلاَّ لَمْحَةٌ وَتَغِيْبُ

dengan kelincahan kedua sayapnya (si burung Qutthah) terbang melesat pada senja hari…
tidaklah penglihatan ini  melainkan hanya sekilas kemudian ia menghilang…
* Lafadz أَحْوَذِيَّيْنَ huruf Nun difathahkan bersamaan dengan Ya’ tanda jar dari  Isim Mutsanna yang di-jarkan oleh huruf jar.
Bait Alfiyah di atas bukanlah maksud menghukumi jarang penggunaan harkah Kasrah untuk  Nun Jamak Mudzakkar Salim dan Harakat Fathah untuk  Nun Isim Mutsanna. Tetapi  maksudnya (sebagaimana dalam kitab syarah kafiyah as-syafiyah oleh beliau) Harakat Kasrah nun Jama’ Mudzakkar adalah Syadz, sedangkan Harakat Fathah Isim Mutsanna adalah sebagaian Logat. Dalam hal ini terdapat dua Qaul: 1. Fathah untuk Nun Mutsanna ketika bersama dengan Ya’,  atau 2. Fathah untuk Nun Mutsanna yang bersama Alif. Dzahirnya perkataan Mushannif  adalah untuk Qaul yang kedua, yakni Fathah Nun Mutsanna ketika bersama dengan Alif.
Contoh penggunaan Nun yang difathahkan dalam Syawahid Syair dari seseorang:

أَعْرِفُ مِنْهَا الْجِيْدَ وَالْعَيْنَانَا … وَمَنْخِرَيْنِ أَشْبَهَا ظَبْيَانَا

Aku mengenalinya…. lehernya….. kedua matanya…..dan kedua lubang hidung tempat ingusnya… menyerupai hidung si Dzabyan….
* Lafadz الْعَيْنَانَا huruf Nun difathahkan bersamaan dengan tetapnya Alif bagi sebagian logat Arab pada Isim Mutsanna yg dinashabkan karena athaf pada isim manshub.
Status syair diatas ada yang mengatakan  mashnu’ (bukan dari bangsa arab), tidaklah 100% bisa dijadikan sebagai syahid syair. diceritakan oleh Ibnu Hisyam bahwa kesubhatan status Syair diatas, yaitu terkumpulnya dua logat dalam satu bait, menetapkan Alif lafazh tatsniyah ketika nashab (الْعَيْنَانَا)  dan lafadz lain menggunakan Ya’ pada (مَنْخِرَيْنِ ). sedangkan imam Sibawaihi dalam kitabnya mengatakan bahwa periwayatan syair diatas adalah Tsiqah dapat dipercaya.
Referensi:
  1. شرح ابن عقيل على ألفية ابن مالك
  2. حاشية الخضري على ابن عقيل
  3. تراجم شعراء الموسوعة الشعرية  » Download.rar 306 kB

Definisi&I’rab Isim Mulhaq Jama’ Mudzakkar Salim » Pembahasan kitab alfiya bait 36-37-38

ilmu nahwu
| Alfiyah Ibn Malik Bait 36-37-38 | Designer: By Ibnu Toha | Font: Deco Type Naskh | Flatform: CorelDraw&Photoshop |

وَشِبْهِ ذَيْنِ وَبِهِ عِشْرُوْنَا ¤ وَبَابُـــهُ أُلْحِــقَ وَالأَهْــــلُوْنَا

….dan yang serupa dengan keduanya ini (“Aamir” dan “Mudznib”, pada bait sebelumnya). Dan lafadz “‘Isyruuna dan babnya”, dimulhaqkan kepadanya (I’rab Jamak Mudzakkar Salim). Juga lafadz “Ahluuna”

أوْلُو وَعَالَمُوْنَ عِلِّيّونَا ¤ وَأَرْضُـــوْنَ شَذَّ وَالْسِّـنُوْنَا

Juga lafadz “Uluu, ‘Aalamuuna, ‘Illiyyuuna dan lafazh Aradhuuna adalah contoh yang syadz (paling jauh dari definisi Jamak Mudzakkar Salim). Juga Lafadz “sinuuna…..

وَبَابُهُ وَمِثْلَ حِيْنٍ قَـدْ يَرِدْ ¤ ذَا الْبَابُ وَهْوَ عِنْدَ قَوْمٍ يَطَّرِدْ

.…dan babnya”. Terkadang Bab ini (bab sinuuna) ditemukan dii’rab semisal lafadz “Hiina” (dii’rab harkat, dengan tetapnya ya’ dan nun) demikian ini ditemukan pada suatu kaum (dari Ahli Nawu atau orang Arab)
Disebutkan pada awal bait diatas kalimat: “dan yang serupa dengan keduanya ini (“Aamir” dan “Mudznib”, pada bait sebelumnya)” yakni, semua Isim Alam dan Isim shifat yang menggenapi syarat sebagai Jama’ Mudzakkar Salim dimana tanda I’rab-nya dengan wau ketika rafa’ dan dengan ya’ ketika nashab dan jar.
Kemudian disebutkan oleh kiyai Mushannif pada Bait kalimat selanjutnya, tentang Isim-isim yang mulhaq/diikutkan kepada I’rab jama’ mudzakkar salim. Adalah Isim yang tidak mencukupi dari syarat ataupun sifat yang wajib dimiliki oleh tiap Isim yang dapat dijadikan jama’ mudzakkar salim.
Dintara Isim-isim Mulhaq Jama’ Mudzakkar Salim tersebut, yang paling masyhur dalam penggunaannya adalah:
  • Kalimah isim yang menunjukkan arti banyak, dan tidak bisa dimufradkan baik secara lafazh atau secara makna: yaitu bab عِشْرُوْنَ (dua puluh) hitungan dari 20, 30, 40 hingga – 90.
contoh Firman Allah:

إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam
  • Kalimah isim yang tidak menggenapi sebagian syarat Jama’ Mudzakkar Salim, seperti lafazh أَهْلٌ dijamakkan menjadi أهْلُوْنَ beserta ia bukan Isim Alam pun bukan Isim Sifat. Sebagaimana disebutkan dalam syawahid syi’ir:

وَمَا الْمَالُ وَاْلأَهْلُوْنَ إِلاَّ وَدَائِعٌ … وَلاَ بُدَّ يَوْماً أَنْ تُرَدَّ اْلوَدَائِعُ

Tidaklah harta dan sanak-keluarga melainkan hanyalah titipan, dan pastilah titipan itu suatu hari akan dikembalikan.
Seperti itu juga lafazh عَالَمُوْنَ dari lafazh عَالَمٌ (Alam, sesuatu selain Allah). Dijamakkan seperti Jama’ mudzakkar salim, beserta ia bukan Isim Alam pun bukan Isim Sifat. Contoh firman Allah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
  • Kalimah isim yang menunjukkan makna Jamak, namun secara lafazh ia tidak bisa dimufradkan. Semisal lafazh أُوْلُوْ. Contoh Firman Allah Swt.

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu.
  • Kalimah mufrad yang di-jamak-kan menjadi isim alam, semisal lafazh عِلِّيُّونَ (kitab catatan amal baik, tempat paling tinggi di Surga, tempat di langit ketujuh dibawah ‘Arsy) dari isim mufrad عِلِّيٌّ (tempat tinggi) akan tetapi ini bukan dari jenis yang berakal. Seperti dalam firman Allah:

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ

Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?
  • Kalimah yang dijamakkan dengan merubah bentuk asal mufradnya, termasuk dari golongan jama’ taksir, akan tetapi ia di-mulhaq-kan kepada jama’ mudzakkar salim di-I’rab dengan huruf.
contoh: اَرَضُوْنَ, huruf Ra’ berharkah fathah, dan lafazh mufrad-nya disukunkan اَرْضٌ – perubahan bentuk asal mufrad, termasuk dari mufrad muannats, jenis tidak berakal, bukan isim alam, dan bukan isim sifat.
سِنُوْنَ dan babnya, huruf Sin di-kasrahkan pada jamaknya, dan di-fathahkan pada bentuk mufradnya سَنَةٌ – perubahan bentuk asal mufrad, termasuk dari mufrad muannats, jenis tidak berakal, bukan isim alam, dan bukan isim sifat. Contoh:

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”
Adapun maksud daripada bab سِنُوْنَ adalah: setiap isim bangsa tiga huruf (Tsulatsi) yang dibuang Lam Fi’ilnya dan diganti dengan Ta’ muannats marbuthah (ة). Di’irab dengan harakah, bagi orang Arab ia tidak digolongkan pada jamak taksir. Misalnya lafazh; عِضَةٌ “kebohongan” jamaknya lafazh عِضُوْنَ dg meng-kasrah-kan huruf ‘Ain. Proses I’lal: asal mufradnya adalah عِضَوٌ isim bangsa Tsulatsi, dibuang Lam Fi’ilnya yaitu huruf Wau dan diganti dengan Ta’ muannats, maka menjadi عِضَةٌ. Contoh Firman Allah:

الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ

(yaitu) orang-orang (yahudi dan nashrani) yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi (menjadikan kebohongan).
Contoh lain: عِزَةٌ manjadi عِزِيْنَ dan مِائَةٌ menjadi مِئِيْنَ dll.

عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ

dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok
Lafazh عِزِيْنَ dinashabkan menjadi Haal. Mulhaq pada jama’ mudzakkar salim.
سِنُوْنَ dan bab-babnya yang dii’rab dengan mengikuti irab jama’ mudzakkar salim ini, termasuk sebagian aksen dari bangsa arab. Diantaranya pula ada yang meng-I’rab سِنُوْنَ dan bab-babnya dengan harakah zhahir pada huruf Nun terakhir yang biasanya ditanwinkan beserta tetapnya huruf Ya’ pada semua I’rabnya, tak ubahnya ia di-i’rab semisal lafazh حِيْنٍ. Contoh:

هَذِهِ سِنِيْنٌ مُجْدِبَةٌ

Ini adalah tahun-tahun yang gersang

وَأَقِمْتُ عِنْدَهُ سِنِيْناً

Aku tinggal bersamanya beberapa tahun.

دَرَسْتُ النَّحْوَ خَمْسَ سِنِيْنٍ

Aku mempelajari Ilmu Nahwu selama lima tahun.
Disebutkan pada salah satu Syawahid Sya’ir dalam bahar Thawil:

دَعَانِيَ مِنْ نَجْدٍ فإِنَّ سِنِينَهُ × لَعِبْنَ بِنَا شِيْباً وَشَيِّبْنَنَا مُرْدَا

Tolong kawan…!
Jangan ungkit lagi tentang Kota Najd
Sesungguhnya tahun-tahun di kota itu…
Telah mempermainkanku ketika aku sudah dalam keadaan ber-uban.
Sesungguhnya tahun-tahun di kota itu…
Telah mengubaniku semenjak aku masih dalam keadaan sangat muda.
Lafazh سِنِيْنَهُ pada Syair diatas, menunjukkan nashab dengan harakah Fathah dan bukan dengan Ya’, karena ia tidak membuang huruf Nun pada keadaan ia menjadi mudhaf.
Ada juga logat dan aksen bahasa arab, tetap meng-I’rab semua bentuk jama’ mudzakkar salim dan mulhaq-mulhaqnya, diberlakukan seperti irab isim mufrad (dii’rab harakah pada nun dengan tetapnya ya’) contoh:

جَاءَ مُعَلِّمِيْنٌ. كَلَّمْتُ مُعَلِّمِيْناً. سَلَّمْتُ عَلَى مُعَلِّمِيْنٍ

Para pengajar telah datang. Aku berbicara pada para pengajar. Aku memberi salam pada para pengajar.
Kesimpulan dari penjelasan bait:
Lafazh عِشْرُوْنَ dan saudara-saudaranya di-mulhaq-kan atau diikutkan kepada jamak mudzakkar salim dalam pengamalan I’rabnya. Seperti itu juga lafazh أهْلُوْنَ – عَالَمُوْنَ – أُوْلُوْ dan عِلِّيُّونَ.
Sedangkan untuk Lafazh اَرَضُوْنَ digaris-bawahi oleh Mushannif sebagai syadz dalam hal ke-mulhaq-annya. Seperti itu juga lafazh سِنُوْنَ dan babnya. Karena kedua lafazh ini adalah isim jenis bukan sifat, bukan isim alam, muannats, tidak berakal, tidak salim lafaz mufradnya, sama sekali tidak memiliki empat syarat untuk jamak mudzakkar salim. Oleh karena itu syadz-nya kedua lafazh tsb lebih kuat.
Disebutkan juga dalam bait: lafazh سِنِيْنَ dan babnya, di-I’rab semisal lafazh حِيْنٍ yakni, menetapkan huruf Ya’ dan Nun pada semua I’rabnya dengan dii’rab harkah zhahir atas Nun yang ditanwin pada nakirahnya.
Disebutkan pula dalam bait bahwa: ditemukan pada orang-orang arab yaitu mengi’rab semua lafazh jamak mudzakkar salim dan mulhaq-mulhaqnya semisal irab pada lafazh سِنِيْنَyang diserupakan dengan irab حِيْنٍ. ***

Bentuk jamak & tanda i’rab Jama’ Mudzakkar Salim: isim jamid, isim sifat, wau rafa’, ya’ nashab/jar » Alfiyah Bait 35

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا اجْرُرْ وَانْصِبِ ¤ سَــــــــالِمَ جَمْعِ عَــــــــامِرٍ وَمُذْنِبِ

Rafa’kanlah dengan Wau!, Jar-kan dan Nashabkanlah dengan Ya’! terhadap Jama’ Mudzakkar Salim dari lafadz “‘Aamir” dan “Mudznib”
Telah disebutkan sebelumnya, dua bagian yang dii’rab dengan huruf pengganti I’rab asal yaitu Asmaus-Sittah dan Isim Mutsanna. Kemudian pada Bait ini Mushannif menyebut bagian ketiga tanda I’rab dengan Huruf untuk Jama’ Mudzakkar Salim berikut mulhaq-mulhaqnya yang akan disebut pada bait-bait selanjutnya. Yaitu tanda I’rab dengan Wau ketika Rafa’ dan dengan Ya’ ketika Nashab atau Jar-nya. Contoh:

أَفْلَحَ الآمِرُوْنَ بِالْمَعْروْفِ

Beruntunglah mereka yang memerintah dengan ma’ruf.

شَجِعْتُ الآمِرِيْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ

Aku memberi motifasi kepada pemerintah-pemerintah dengan ma’ruf.

سَلَّمْتُ عَلَى الآمِرِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِ

Aku memberi salam untuk mereka yang memerintah kepada yang ma’ruf.
Definisi Jamak Mudzakkar Salim adalah: Isim yang menunjukkan arti lebih dari dua dengan sebab tambahan huruf di akhirnya, dapat di-mufrad-kan dan di-athaf-kan berupa lafazh yang sama. Contoh:

فَرَحَ الْفَائِزُوْنَ

Bergembiralah orang-orang yang sukses.
Maka contoh kalimah isim diatas menunjukkan arti lebih dari dua, sebab huruf zaidah di akhirnya berupa wawu dan nun, dapat dipisah dibentuk mufrad (tunggal) dengan membuang huruf zaidah menjadi فائز berikut di-athaf-kan terdiri dari lafazh yang sama, maka menjadi جاء فائز وفائز آخر.
Maksud perkataan السالم “Salim” adalah selamat atau tidak berubah bentuk mufrad-nya ketika dibuat bentuk Jamak. artinya, tetap langgeng  lafazh mufrad –nya setelah dibuat Jamak, yakni huruf-hurufnya tidak mengalami perubahan,  baik jenisnya,  jumlahnya atau harkah-nya. kecuali karena ada proses I’lal. Misal المصطفى setelah dibuat jamak mudzakkar salim menjadi المصطفاون karena bertemu dua mati yaitu Alif dan Wau jamak, maka Alif dibuang dan menjadi المُصْطَفَوْنَ
Disebutkan pada bait diatas contoh lafazh عامر ومذنب “’Aamir dan Mudznib” menunjukkan bahwa kalimah yang boleh di bentuk jamak dengan Jama’ Mudzakkar Salim ada dua kategori, yaitu Isim Jamid (عامر ) atau Isim Sifat (مذنب) .
Disyaratkan untuk Isim Jamid yang dapat di-bentuk jamak dengan jama’ mudzakkar salim dengan 5 syarat:
1. Harus berupa Isim Alam / kata nama. Contoh: زيد “Zaid”. خالد “Khalid”. Tidak diperkenankan untuk isim jamid yang bukan isim alam contoh: غلام “anak kecil laki”, رجل “pria dewasa” kecuali jika dishighat tashghir/dibentuk mini, maka boleh karena otomatis menjadi Isim Sifat contoh: رجيل “si pria kecil” dapat dibentuk jama’ mudzakkar salim menjadi رجيلون.
2. Harus nama laki-laki, tidak diperkenankan untuk nama perempuan misal: زينب “Zainab” هند “Hindun” سعاد “Su’ad”.
3. Harus nama makhluk ber-akal (yakni dari jenis makhluk yang berakal termasuk bayi dan orang gila). Tidak diperkenankan untuk semisal nama hewan لاحق “Lahiq” nama kuda.
4. Harus kosong dari Ta’ Muannats Zaidah. Tidak diperkenankan untuk contoh: حمزة “Hamzah” طلحة “Thalhah”.
5. Bukan dari Isim Alam hasil Tarkib (berasal dari susunan kata) contoh سيبويه “Sibawaihi”.
Contoh Jama’ Mudzakkar Salim dari Isim Alam yang mencukupi Syarat :

جَاءَ زَيْدُوْنَ. هَنَأتُ زَيْدِيْنَ. مَرَرْتُ بِزَيْدِيْنَ

Zaid-Zaid telah datang. Aku membantu Zaid-Zaid. Aku berjumpa dengan Zaid-Zaid.
Disyaratkan untuk Isim Sifat yang dapat di-bentuk jamak dengan jama’ mudzakkar salim dengan 6 syarat:
1. Harus sifat bagi laki-laki, tidak diperkenankan seperti contoh: حائض “yang Haid” مرضع “yang menyusui”
2. Harus sifat bagi yang berakal, tidak diperkenankan untuk contoh: صاهل “yg meringkik” (sifat kuda)
3. Harus kosong dari ta’ muannats, maka tidak diperkenankan seperti contoh علامة “tanda” قائمة “sangga” صائمة “tenang”.
4. Bukan Isim sifat dengan wazan أفعل yang muannts-nya adalah فعلاء contoh: أحمر “yang merah” أخضر “yang hijau”.
5. Bukan Isim sifat dengan wazan فعلان yang muannts-nya adalah فعلى contoh: سكران “yang mabok”.
6. Bukan dari Isim Sifat yang sama bisa ditujukan untuk laki-laki dan atau perempuan contoh: صبور “yang sabar” جريح “yang terluka”
Contoh Jama’ Mudzakkar Salim dari Isim Sifat yang mencukupi Syarat :

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.
Kesimpulan penjelasan bait: Rofa’kanlah dengan wau sebagai ganti dari dhammah, Jar-kanlah dengan Ya’ sebagai ganti dari kasrah, dan Nashab-kan juga dengan Ya’ sebagai ganti dari Fathah. Terhadap Jama’ Mudzakkar Salim dari lafazh ‘Aamir (isim Alam) dan Lafazh Mudznib (isim Sifat).

Pengertian Tanda I’rob Isim Mutsanna/Tatsniyah dan Mulhaq-nya » Alfiyah Bait 32-33-34

بِالأَلِفِ ارْفَع الْمُثَنَّى وَكِلاَ ¤ إذَا بِمُـــضْمَرٍ مُضَــافَاً وُصِلاَ

Rofa’-kanlah! dengan tanda Alif terhadap Isim Mutsanna, juga lafadz Kilaa apabila tersambung langsung dengan Dhamir, dengan menjadi Mudhaf.

كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ وَاثْنَتَانِ ¤ كَابْنَــيْنِ وَابْنَتَيْــنِ يَجْــرِيَانِ

Juga (Rofa’ dg tanda Alif) lafadz Kiltaa, begitupun juga lafadz Itsnaani dan Itsnataani sama (I’rob-nya) dengan lafadz Ibnaini dan Ibnataini keduanya contoh yang di jar-kan.

وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيْعِهَا الأَلِفْ ¤ جَــــرًّا وَنَصْـــبَاً بَعْدَ فَتْـــحٍ قَدْ أُلِفْ

Ya’ menggantikan Alif (tanda Rofa’) pada semua lafadz tsb (Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya) ketika Jar dan Nashab-nya, terletak setelah harakah Fathah yang tetap dipertahankan.
Kitab Hasyiyah Al-Khudhari penjelasan Syarah Ibnu 'Aqil
Telah disebutkan sebelumnya tanda I’rab dengan huruf sebagai pengganti dari I’rab Harakah yaitu pada Asmaus-Sittah. Selanjutnya pada Bait ini, Kiyai Mushannif Ibnu Malik menerangkan tentang I’rab pengganti asal bagian kedua, yaitu untuk tanda I’rob Isim Mutsanna (Kata benda dual) dan Muhaqnya (Isim yang diserupakan Isim Tatsniyah/Mutsanna).
Definisi Isim Tatsniyah/Mutsanna dalam ilmu nahwu dan Sharaf adalah: Satu lafazh kalimah yg menunjukkan dua buah objek, dikarenakan ada penambahan huruf zaidah di akhirnya, dapat dibentuk mufrad/tunggal beserta dapat dipisah dan diathafkan terdiri dari dua lafazh yang sama. Contoh Isim Tatsniyah:

زَيْدَانِ, ضَرْبَانِ, مُسْلِمَانِ

Dua Zaid, dua pukulan, dua orang Muslim.
4 macam kategori lafazh kalimah tidak bisa dikatakan Isim Tatsniyah/Mutsanna:
1. Lafazh menunjukkan dua objek, tapi bukan sebab huruf tambahan. Contoh:

شَفْعٌ

Sepasang
2. Lafazh ada tambahan huruf zaidah semisal Isim Tatsniyah, tapi tidak menunjukkan dua objek. Contoh:
  • Menunjukkan Mufrad/tunggal dari isim sifat:

رَجْلاَنُ، رَحْمَانُ، شَبْعَانُ، جَوْعَانُ، سَكْرانُ، نَدْمَانُ

Pejalan kaki, pengasih, yang kenyang, yang lapar, yang mabuk, tukang minum.
  • Menunjukkan Mufrad/tunggal dari isim alam / nama:

عُثْمَانُ، عَفَّانُ، حَسَانُ

Utsman, ‘Affan, Hasan
  • Menunjukkan Jamak dari jama’ taksir:

صِنْوَانٌ, غِلْمَانٌ, صِرْدَانٌ, رُغْفَانٌ, جُرْذَانٌ

Saudara-saudara sekandung, anak-anak muda, kumpulan burung-burung sejenis, adonan-adonan roti/keju, kumpulan tikus-tikus.
Masing-masing ketiga jenis contoh-contoh kalimah diatas di-I’rab dengan Harkah Zhahir pada Nun shighah bukan Nun maqom tanwin, sedangkan Alifnya adalah Lazim pada semua I’rabnya.
3. Lafazh menunjukkan dua buah tapi tidak dapat dimufrodkan/tunggal. Contoh:

اثْنَانِ

Dua
Tidak bisa dimufrodkan atau tidak bisa membuang huruf zaidah atau tidak bisa dilafalkan اثْنٌ.
4. Lafazh menunjukkan dua buah objek, ada tambahan huruf zaidah, bisa dimufrodkan/tunggal, bisa dipisah berikut diathafkan tapi bukan terdiri dari dua lafazh yang sama. Contoh sebagaimana orang arab mengatakan:

القَمَرَيْنِ

Dua planet yg menyinari bumi
Karena setelah dipisah dan di-athafkan menjadi الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ

اَبَوَيْنِ

Dua orang tua.
Karena setelah dipisah dan di-athafkan menjadi الأَبُ والأُمُّ
Tanda I’rob Isim Mutsanna/Tatsniyah
Tanda I’rob untuk Isim Mutsanna adalah Rofa’ dengan huruf Alif sebagai ganti dari I’rob asal harakah Dhammah, Nashab dengan Huruf Ya’ sebagai ganti dari Fathah juga Jar dengan huruf Ya’ sebagai ganti dari Kasroh. Contoh:

قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya.

فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلاَنِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ

didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun).

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur).
Demikianlah I’rob Isim Tatsniyah menurut sebagian besar logat orang Arab. Dan sebagian lain (logat bani Kinanah, Bani Harits bin Ka’ab, bani ‘Ambar, bani Bakar bin Wa’il, bani Zubaid, bani Kats’am, bani Hamdan, bani ‘Udzrah) mengamalkan Isim Mutsanna dan Mulhaqnya dengan tanda Alif secara muthlaq; baik rofa’, nashab dan jarnya. contoh:

جَاءَ الزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا- رَأَيْتُ الزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا- مَرَرْتُ بِالزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا

Dua Zaid telah datang kedua-duanya – Aku melihat dua Zaid kedua-duanya – Aku bertemu dengan dua Zaid kedua-duanya.
Demikian juga sebagian Qiraah membaca Inna ditasydid pada Ayat:

قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ

Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir…”
Nabi bersabda:

لاَ وِترَانِ فِي لَيْلَةٍ

Tidaklah dua Witir dalam satu malam.
Tanda I’rob Muhaq kepada Isim Mutsanna/Tatsniyah
Termasuk juga untuk I’rob Isim yang diserupakan atau di-mulhaq-kan dengan Isim Mutsanna atau dikenal dengan sebutan Mulhaq Mutsanna, yaitu setiap isim/kata benda yang kurang mencukupi syarat definisi Isim Mutsanna. Di antara isim-isim mulhaq tsb. Sebagaimana disebutkan dalam bait adalah:
Kilaa dan kiltaa (كِلاَ وكِلْتَا), dengan prosedur sbb:
1. Diberlakukan seperti I’rab Isim Mutsanna, apabila Mudhaf pada Isim Dhamir. Contoh:

جَاءَنِيْ كِلاَهُمَا وَرَأَيْتُ كِلَيْهِمَا وََمَرَرْتُ بِكِلَيْهِمَا

Keduanya (male) mendatangiku, Aku melihat keduanya, Aku bertemu dengan keduanya

وَجَاءَتْنِيْ كِلْتَاهُمَا وَرَأَيْتُ كِلْتَيْهِِمَا وَمَرَرْتُ بِكِلْتَيْهِمَا

Keduanya (female) mendatangiku, Aku melihat keduanya, Aku bertemu dengan keduanya

العِلْمُ وَالعَمَلُ كِلاَهُمَا مَطْلُوْبٌ

Ilmu dan Amal, kedua-duanya dituntut.

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”
2. Diberlakukan seperti I’rab Isim Maqshur (tetap menggunakan Alif, pada Rafa’/Nashab/Jar). Apabila Mudhaf pada Isim Zhahir. Contoh:

جَائَنِيْ كِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ وَرَأَيْتُ كِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ وَمَرَرْتُ بِكِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ

Datang kepadaku kedua pria dan kedua wanita itu. Aku melihat kedua pria dan kedua wanita itu. Aku berjumpa dengan kedua pria dan kedua wanita itu.

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا

Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya
Itsnaani dan Itsnataaani (اثْنَانِ واثْنَتَانِ), dengan prosedur sbb:
Diberlakukan Hukum I’rab seperti Isim Mutsanna tanpa syarat, sebagaimana contoh Isim Mutsanna/Tatsniyah lafazh Ibnaani dan Ibnataani (ابْنَانِ وابْنَتَانِ). Contoh:

حَضَرَ مِنَ الضُّيُوْفِ اثْنَانِ

Telah hadir dua orang dari tamu-tamu itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu…
Kesimpulan penjelasan Bait: Isim Mutsanna/Tatsniyah di rofa’-kan dengan Alif, demikian juga Kilaa dan Kiltaa dengan syarat mudhaf dan mudhaf ilaih-nya harus isim dhamir. Sedangkan itsnaani dan itsnataani diberlakukan seperi Isim Mutsanna sebagaimana Ibnaani dan ibnataani. Adapun ketika dalam keadaan Nashab atau Jar, maka tanda irob-nya adalah Ya’ menempati tempatnya Alif ketika Rofa’. Semua tanda irab Isim Mutsanna dan mulhaq-nya jatuh sesudah harakah Fathah, karena fathah ini biasa berlaku untuk alif Tatsniyah. Maka tetap dipertahankan ketika bersama dengan Ya’.