Jumat, 15 November 2024

Fi’il Mulhaq Ruba’i Mujarrod dan Mulhaq Ruba’i Mazid

Fi’il Mulhaq Ruba’i Mujarrod dan Mulhaq Ruba’i Mazid


Selain dari Fi’il Tsulatsi dan Fi’il Ruba’i, maka ada lagi yang disebut Mulhaq Ruba’i. Baik mulhaq kepada Ruba’i Mujarrod atau mulhaq kepada Ruba’i Mazid. Sebagaimana Tabel berikut ini:

Fi’il Mulhaq Ruba’i Mujarrad, ada 6 Bab.

WAZAN

MAUZUN

فَوْعَلَ يُفَوْعِلَ فَوْعَلَةً وفِيْعَالاًحَوْقَلَ يُحَوْقِلُ حَوْقَلَةً وحِيْقَالاً
فَيْعَلَ يُفَيْعِلُ فَيْعَلَهً وفِيْعَالاًبَيْطَرَ يُبَيْطِرُ بَيْطَرَةً وبِيْطَارَاً
فَعْوَلَ يُفَعْوِل فَعْوَلَةً وفِعْوَالاًجَهْوَرَ يُجَهْوِرُ جَهْوَرَةً وجِهْوَارَاً
فَعْيَلَ يُفَعْيِل فَعْيَلَةً وفِعْيَالاًعَثْيَرَ يُعَثْيُرُ عَثْيَرَةً وعِثْيَاراً
فَعْلَلَ يُفَعْلِلُ فَعْلَلَةً وفِعْلالاًجَلْبَبَ يُجَلْبِبُ جَلْبَبَةً وجِلْبَابَاً
فَعْلَى يُفَعْلى فَعْلَيَةً وفَعْلاءًسَلْقَى يُسَلْقَى سَلْقَيَةً وسَلْقَاءً


Fi’il Mulhaq Ruba’i Mazid, ada 7 Bab.

WAZAN

MAUZUN

تَفَعْلَلَ يَتَفَعْلَل تَفَعْلُلاًتجلبب يتجلبب تجلبباً
تَفَوْعَلَ يَتَفَوْعَلُ تَفَوْعُلاًتَجَوْرَبَ يَتَجَوْرَبُ تَجَوْرُبَاً
تَفَيْعَلَ يَتَفَيْعَلُ تَفَيْعُلاًتَشَيْطَنَ يَتَشَيْطَنُ تَشَيْطُنَاً
تَفَعْوَلَ يَتَفَعْوَلُ تَفَعْوُلاًتَرَهْوَكَ يَتَرَهْوَكُ تَرَهْوُكَاً
تَفَعْلَى يتَفَعْلَى تَفَعْلِيِاًتَسَلْقَى يَتَسَلْقَى تَسَلْقِيَاً
افْعَنْلَلَ يَفْعَنْلِل افْعِنْلالاًاقْعَنْسَسَ يَقَعَنْسَسُ اقْعِنْسَاسَاً
افْعَنْلَى يَفْعَنْلَى افْعِنْلاءًاسْلَنْقَى يَسْلَنْقَى اسْلِنْقَاءً

Fi’il Ruba’i Mazid

Fi’il Ruba’i Mazid


Fi’il Ruba’i Mazid:

Ada yang ditambah satu huruf, seperti تَفَعْلَلَ (dengan ditambahi Ta’ didepan Fa’ Fi’il). Disebut Fi’il Ruba’i Mazid Khumasi

Ada yang ditambah dua huruf, seperti افْعَنْلَلَ (tambahan Alif sebelum Fa’ Fi’il dan Nun diantara ‘Ain Fi’il dan Lam Fi’il pertama). افعَلَلَّ (tambahan Alif sebelum Fa’ Fi’il dan Double Lam pada Lam Fi’il kedua). Disebut Fi’il Ruba’i Mazid Sudasi.

Wazan Fiil Ruba’i Mazid ada 3 Bab, sebagaimana tabel berikut:

WAZAN
MAUZUN
تَفَعْلَلَ يَتَفَعْلَلُ تَفَعْلُلاًتَدَحْرَجَ يَتَدَحْرَجُ تَدَحْرُجَاً
افْعَنْلَلَ يَفْعَنْلِل افْعِنْلالاًاحْرَنْجَمَ يَحْرَنْجَمُ احْرِنْجَامَاً
افعَلَلَّ يَفْعَلِلُّ افْعِلالاًاقْشَعَرَّ يَقْشَعِرُّ اقْشِعْرَارَاً

Fi’il Tsulatsi Mazid


Sebagaimana kita pelajari sebelumnya, bahwa bentuk dasar Kalimah Fi’il itu ada dua, Fi’il Tsulatsi (Fi’il bangsa tiga huruf) dan Fi’il Ruba’i (Fi’il bangsa empat huruf). Masing-masing dari Tsulatsi dan Ruba’i tersebut ada yang mujarrod: artinya tidak ada huruf tambahan pada Fi’il Madhinya, sebagaimana contoh yang telah diposting pada halaman-halaman sebelumnya. Kemudian ada yang Mazid: artinya pada Tsulatsi dan Ruba’i tersebut ada tambahan huruf, sehingga dinamakan Fi’il Tsulatsi Mazid atau Fi’il Ruba’i Mazid.

Fi’il Tsulatsi Mazid

Ada yang ditambah satu huruf, seperti أَفْعَلَ (dengan ditambahi huruf Hamzah’ didepan Fa’ Fi’il). فَاعَلَ (ada tambahan Alif diantara Fa’ Fi’il dan ‘Ain Fi’il). فَعَّلَ (ada tambahan ‘Ain, menjadi double ‘Ain). Maka disebut Fi’il Tsulatsi Mazid Ruba’i

Ada yang ditambah dua huruf, seperti تَفَاعَلَ (tambahan Ta’ sebelum Fa’ Fi’il dan Alif diantara Fa’ Fi’il dan ‘Ain Fi’il). انْفَعَلَ (tambahan Alif dan Nun sebelum Fa’ Fi’il). تَفَعَّلَ (tambahan Ta’ sebelum Fa’ Fi’il dan Double ‘Ain). افْتَعَلَ (tambahan Alif sebelum Fa’ Fi’il dan Ta’ diantara Fa’ Fi’il dan ‘Ain Fi’il). افْعَلَّ (tambahan Alif sebelum Fa’ Fi’il dan Double Lam). Maka disebut Fi’il Tsulatsi Mazid Khumasi

Ada yang ditambah hingga tiga huruf, seperti: اسْتَفْعَلَ (ditambah Alif, Sin dan Ta’ sebelum Fa’ Fi’il). افْعَالَّ(ditambah Alif sebelum Fa’ Fi’il, Alif sebelum ‘Ain Fi’il dan Double Lam). افْعَوْعَلَ (ditambah Alif sebelum Fa’ Fi’il, Wau sebelum ‘Ain Fiil dan ‘Ain sebelum Lam Fi’il). افْعَنْلَلَ (ditambah Alif sebelum Fa’ Fi’il, Nun sebelum Lam Fi’il dan Lam sesudah Lam Fi’il). افْعَنْلَى (ditambah Alif sebelum Fa’ Fi’il, Nun sebelum Lam Fi’il dan Alif Layyinah sesudah Lam Fi’il). افْعَوَّلَ (tambahan Alif sebelum Fa’ Fi’il, Dua Wau sebelum Lam Fi’il). Maka disebut Fi’il Tsulatsi Mazid Sudasi
Untuk lebih mudahnya kita lihat wazan-wazan tabel berikut:

WAZAN

MAUZUN

أَفْعَلَ يُفْعِلُ إفْعَالاًأَكْرَم يُكْرِم إكْراماً
فَعّلَ يُفَعِّلُ تَفْعيلاًفَرَّحَ يُفَرِّحُ تَفْرِيحاً
فَاعَلَ يُفَاعِلُ مُفَاعَلَةً وفِعَالاً وفِيْعَالاًقَاتَلَ يُقَاتِلُ مُقَاتَلَةً وقِتَالاً وقِيْتَالاً
انْفَعَلَ يَنْفَعِلُ انْفِعَالاًانْكَسَرَ يَنْكَسِرُ انْكِسَارَاً
افْتَعَلَ يَفْتَعِلُ افْتِعَالاًاجْتَمَعَ يَجْتَمِعُ اجْتِمَاعَاً
افْعَلَّ يَفْعَلُّ افْعَلالاًاحْمَرَّ يَحْمَرُّ احْمِرَارَاً
تَفَعَّلَ يَتَفَعَّلُ تفعُّلاًتَكَلَّمَ يَتَكَلَّمُ تَكَلُّمَاً
تَفَاعَلَ يَتَفَاعَل تَفَاعُلاًتَبَاعَدَ يَتَبَاعَدُ تَبَاعُدَاً
اسْتَفْعَلَ يَسْتَفْعِل اسْتِفْعَالاًاسْتَخْرَجَ يَسْتَخْرِجُ اسْتِخْرَاجَاً
افْعَوْعَلَ يَفْعَوْعَلُ افْعِيْعَالاًاعْشَوْشَبَ يَعْشَوْشَبُ اعْشِيْشَابَاً
افْعَوَّلَ يَفْعَوَّلُ افْعُوَّالاًاجَلَوَّذّ يَجْلَوَّذُ اجْلَوَّاذاً
افْعَالَّ يَفْعَالُّ افْعِيْعَالاًاحْمَارَّ يَحْمَارُّ احْمِيرَارَاً

Fi’il Ruba’i Mujarrod


Untuk mengetahui bentuk Bina’ pada tiap-tiap kalimah Bahasa Arab, terlebih dahulu kita harus mengenal bentuk Fi’il Madhinya. Asal bentuk Fi’il Madhi ada dua macam:

1. Fi’il Tsulatsiy/kalimah bangsa tiga huruf.
2. Fi’il Ruba’iy/kalimah bangsa empat huruf.

Apabila pada Fi’il Madhinya tersebut berjumlah empat huruf asal, maka dinamakan Fi’il Ruba’i Mujarrad, dimana wazannya ada satu, sebagaimana tabel berikut:

WAZAN
MAUZUN
فَْعْلَلَ يُفَعْلِلُ فَعْلَلَةً فِعْلاَلاً
دَحْرَجَ يُدَحْرِجُ دَحْرَجَةً دِحْرَاجًا


Fi’il Tsulatsi Mujarrad


Untuk lebih mengenal bentuk Bina’ pada tiap-tiap kalimah, terlebih dahulu kita harus mengetahui bentuk kata kerjanya dilihat dari Fi’il Madhinya. Asal bentuk Fi’il Madhi itu ada dua macam, Fi’il Tsulatsiy adalah kalimah bangsa tiga huruf, dan Fi’il Ruba’iy adalah kalimah bangsa empat huruf.

Apabila pada Fi’il Madhinya tersebut berjumlah asal tiga huruf maka dinamakan Fi’il Tsulatsi Mujarrad, dimana jumlah wazannya ada 6 Bab, sebagaimana tabel berikut:

WAZAN

MAUZUN

فَعَلَ يَفعُلُنَصَرَ يَنْصُرُ
فَعَلَ يَفْعِلُضَرَبَ يَضْرِبُ
فَعَلَ يَفْعَلُمَنَحَ يَمْنَحُ
فَعِلَ يَفْعَلُفَضِلَ يَفْضَل
فَعُلَ يَفْعُلُحسُن يحسُن
فَعلَ يَفْعِلُحَسِبَ يَحْسِبُ

Tashrif Fi’il Tsulatsi Mujarrad Wazan Bab 1

Tashrif Fi’il Tsulatsi Mujarrad Wazan Bab 1


CONTOH PERUBAHAN BENTUK KATA

الَّصْرِيْفُ اْلاِصْطِلاَحِيُّ

TASHRIF ISHTHILAHIY

FI’IL TSULATSI MUJARRAD
WAZAN BAB 1

ISIM ALATZAMAN/ TEMPATFI’IL NAHIFI’IL AMARISIM MAF’ULISIM FA’ILISIM MASDARFI’IL MUDHARI’FI’IL MADHI
مِفْعَلٌمَفْعَلٌلاَتَفْعُلْاُفْعُلْمَفْعُوْلٌفَاعِلٌفَعْلاًيَفْعُلُفَعَلَ
perkakas kerjawaktu/ tempat kerjajangan kerjakan!kerjakan!bahan pekerjaansi perkerjakerjaakan/ sedang bekerjasudah bekerja
مِنْصَرٌمَنْصَرٌلاَتَنْصُرْاُنْصُرْمَنْصُوْرٌنَاصِرٌنَصْرًايَنْصُرُنَصَرَ
alat penolongwaktu/ tempat pertolonganjanganlah ditolong!tolonglah! olehmuyg mendapat pertolongansang penolongpertolongania akan/ sedang menolongia sudah menolong
مِمَدٌّمَمَدٌّلاَتَمُدَّمُدَّمَمْدُوْدٌمَادٌّمَدًّايَمُدُّمَدَّ
peralatan peman-janganwaktu/ tempat peman-janganjangan meman-jangkanpanjangkan!yang panjangsi pemanjangpeman-jangania akan/ sedang meman-jangkania sudah meman-jangkan
مِصْوَنٌمَصَانٌلاَتَصُنْصُنْمَصُوْنٌصَائِنٌصَوْنًايَصُوْنُصَانَ
alat penjagaanwaktu/ tempat penjagaanjangan menjaga!jagalah!yg terjaga/ terpeliharasi penjagapenjagaanakan/ sedang menjagasudah menjaga
مِغْزًىمَغْزًىلاَتَغْزًاُغْزُمَغْزُوُّغَازٍغَزْوًايَغْزُوْغَزَا
alat untuk mencariwaktu/ tempat pencarianjangan dicari!carilah!suatu yg dicarisi pencaripencarianakan/ sedang mencarisudah mencari
مِئْمَلٌمَأْمَلٌلاَتَأْمُلْأُوْمُلْمَأْمُوْلٌآمِلٌأَمَلاًيَأْمُلُأَمَلَ
alat peng-harapanwaktu/ tempat mengharapjangan meng-harap!ber-haraplah!yang di-harapsang pengharapharapanakan/ sedang meng-haraptelah meng-harap

Qowaidul i'lal

Qowaidul i'lal

Belajar i'lal


Tujuan I’lal adalah merubah Huruf Illat seperti Wau, Alif dan Ya’, supaya ringan dan mudah dalam mengucapkannya. Untuk mempelajarinya, tentunya terlebih dahulu kita harus mengenal Wazan-wazan Fi’il, seperti:

Wazan Fi’il
Fi’il Tsulatsi Mujarrod
Fi’il Ruba’i Mujarrod
Fi’il Tsulatsi Mazid
Fi’il Ruba’il Mazid
Fi’il Mulhaq Ruba’i Mujarrad dan Mulhaq Ruba’i Mazid.

Juga mengenal Bina’ pada tiap-tiap kalimah, seperti:
Bina’ Shohih
Bina’ Mudho’af
Bina’ Mahmuz
Bina’ Mitsal
Bina’ Ajwaf
Bina’ Naqis
Bina’ Lafif.

Cara merubah huruf-huruf illat tersebut, terkadang dengan cara menukar, memindahkan tanda baca/harakat/syakal, disukunkan, bahkan sampai membuang huruf. Semua cara itu tentu ada kaidahnya masing-masing, yang dikenal dengan Kaidah I’lal. Contohnya seperti: صَانَ asal bentuknya صَوَنَ huruf Wau diganti Alif alasannya karena huruf illat Wau tersebut mendapat harkat sedangkan sebelumnya ada Huruf yang berharkat Fathah. Contoh lain seperti: يَصُوْنُ asal bentuknya adalah يَصْوُنُ mengikuti wazan يَفْعُلُ harkat Wau dipindah ke huruf sebelumnya alasannya karenah sebelum Wau ada Huruf Shohih yang tidak mendapatkan Harkat alias Sukun. Dan sebagainya.

Kesimpulannya, untuk lebih memudahkan melaksanakan praktek I’lal ini, kita harus mengetahui dulu bentuk kalimah menurut tashrif nya, mengetahui Bina’ nya, dan yang terpenting mengetahui kaidah-kaidahnya yang berjumlah 19 KAIDAH I’LAL.

Kaidah Ilal ke 1
Kaidah Ilal ke 2
Kaidah Ilal ke 3
Kaidah Ilal ke 4
Kaidah Ilal ke 5
Kaidah Ilal ke 6
Kaidah Ilal ke 7
Kaidah Ilal ke 8
Kaidah Ilal ke 9
Kaidah Ilal ke 10
Kaidah Ilal ke 11
Kaidah Ilal ke 12
Kaidah Ilal ke 13
Kaidah Ilal ke 14
Kaidah Ilal ke 15
Kaidah Ilal ke 16
Kaidah Ilal ke 17
Kaidah Ilal ke 18
Kaidah Ilal ke 19

Dhomir

Dhomir


Sebelum melanjutkan pembahasan tentang Fi'il, Saya akan menyisipkan sedikit pembahasan tentang Dhomir terlebih dahulu. Pengetahuan tentang Dhomir ini akan sangat membantu dalam memahami Fi'il.

Apa itu Dhomir?

Dhomir adalah Kata Ganti. Misalnya dalam bahasa Indonesia terdapat kata ganti Saya, Kamu, Kalian, Dia, Mereka, Kami, dan Kita. Kata "Ahmad pergi ke pasar." dapat diganti "Dia pergi ke pasar". Kata "Dia dalam kalimat kedua menggantikan kata "Ahmad" dalam kalimat pertama.

Bahasa Arab pun tidak jauh berbeda.Terdapat 14 Dhomir atau kata ganti dalam bahasa Arab. Silahkan dilihat pada tabel berikut:

DhomirCara MembacaArti
هُوَHuwaDia (laki-laki) (1 orang)
هُمَاHumaDia (laki-laki) (2 orang)
هُمْHumDia (laki-laki) (3 orang)/ biasa disebut “mereka”
هِيَHiyaDia (perempuan) (1 orang)
هُمَاHumaDia (perempuan) (2 orang)
هُنَّHunnaDia (perempuan) (3 orang) / biasa disebut “mereka”
أَنْتَAntakamu (laki-laki) (1 orang)
أَنْتُمَاAntumakamu (laki-laki) (2 orang)
أَنْتُمْAntumkamu (laki-laki) (3 orang)/ biasa disebut “kalian”
أَنْتِAntikamu (perempuan) (1 orang)
أَنْتُمَاAntumakamu (perempuan) (2 orang)
أَنْتُنَّAntunnakamu (perempuan) (3 orang)/ biasa disebut “kalian”
أَنَاAnaaSaya
نَحْنُNahnuKami/Kita

 

Ke-14 Dhomir tersebut harus dihafalkan. Karena banyak pembahasan dalam Bahasa  Arab yang berhubungan dengan Dhomir ini. Agar lebih mudah dalam menghafalkan sebaiknya berurutan dari atas ke bawah.

 

 

Fi'il Madhi & Fi'il Mudhori

Fi'il Madhi & Fi'il Mudhori

Menurut waktunya, Fi'il dibagi dua, yaitu Fi'il Madhi dan Fi'il Mudhari'. Nama kedua fi'il tersebut tampak susah, tetapi jangan khawatir, sebenarnya sangat mudah kok memahaminya.

Fi'il Madhi adalah Fi'il atau Kata Kerja dalam Bahasa Arab yang digunakan untuk menyatakan pekerjaan yang SUDAH dikerjakan (lampau).

Fi'il Mudhari' adalah fi'il atau Kata Kerja dalam Bahasa Arab yang digunakan untuk menyatakan pekerjaan yang SEDANG atau AKAN dikerjakan.

Lalu bagaimana cara membedakannya?

Langsung ke contoh saja, misalnya kita mencari terjemah Bahasa Arab dari kata "duduk" di dalam kamus, maka kita akan mendapati kata berikut:

 

Jadi, jika kalimat tersebut menyatakan pekerjaan yang sudah terjadi maka harus menggunakan Fi'il Madhi, begitu juga sebaliknya, jika pekerjaan terjadi di masa kini atau masa mendatang maka harus menggunakan Fi'il Mudhari'.

Jelas bukan? Sedikit catatan, Fi'il Mudhari' selalu diawali oleh salah satu dari huruf : أ, ت, ي, ن

Penggunaan lebih jelasnya akan kita bahas pada bab berikutnya.



 

Fi'il

Fi'il

Pada kali ini kita akan belajar bersama tentang Fi’il. Apa itu Fi’il? Kata sebenarnya dari Fi’il adalah Fi’lun (فِعْلٌ). Entah kenapa orang Indonesia lebih akrab dengan kata Fi’il, mungkin karena lebih mudah diucapkan. Fi’il adalah suatu kata yang menunjukkan perbuatan yang dilakukan pada waktu tertentu. Atau dengan kata lain Fi’il adalah Kata Kerja dalam Bahasa Arab.

Berikut beberapa contoh Fi’il :

Belajarتَعَلَّمَ-يَتَعَلَّمُ
Sholatصَلَّى-يُصَلِّى
Tidurنَامَ-يَنَامُ
Mencuciغَسَلَ-يَغْسِلُ
Menulisكَتَبَ-يَكْتُبُ

 

Penggunaan dan macam-macam Fi’il akan kita bahas pada bab selanjutnya. 

 

 

 

 

Macam-Macam Jama'

Macam-Macam Jama'

Kita telah belajar pembagian Isim berdasarkan Jumlahnya. Berdasarkan Jumlahnya Isim dibagi menjadi tiga jenis, yaitu Isim Mufrod, Isim Mutsanna, dan Isim Jamak.

Isim Jamak adalah Isim yang digunakan untuk menunjukkan kata benda yang berjumlah lebih dari Dua alias Tiga keatas. Jadi  Isim Jamak kita gunakan untuk menyatakan misalnya : Meja 3 buah, kursi 4 buah, Rumah 9 buah dan lain sebagainya.

Isim Jamak terdiri atas Tiga Jenis, yaitu:

 

A. Jamak Mudzakkar Salim

Jamak Mudzakkar Salim adalah jenis isim jamak yang digunakan untuk menyatakan bentuk jamak dari isim mudzakkar yang bentuknya mengikuti suatu pola yang pasti. Cara membuat Jamak Mudzakkar Salim adalah dengan menambahkan huruf wawu dan nun di belakang Isim Mufrod atau bentuk tunggalnya. Lebih jelasnya perhatikan beberapa contoh berikut :

NoIsim MufrodJama' Mudzakkar Saliim
1مُسْلِمٌمُسْلِمُوْنَ
2مُؤْمِنٌمُؤْمِنُوْنَ
3حَاضِرٌحَاضِرُوْنَ
4كَافِرٌكَافِرُوْنَ
5مُنَافِقٌمُنَافِقُوْنَ

 

B. Jamak Muannats Saliim

Jamak Muannats Salim adalah jenis jamak yang digunakan untuk menyatakan bentuk jamak dari Isim Muannats yang bentuknya mengikuti suatu pola yang pasti. Cara membuat Jamak Muannats Salim adalah denga menambahkan huruf Alif dan ta’ di belakang Isim Mufrodnya. Perhatikan contoh berikut:

NoIsim MufrodJama' Muannats Saliim
1مُسْلِمَةٌمُسْلِمَاتٌ
2مُؤْمِنَةٌمُؤْمِنَاتٌ
3حَاضِرَةٌحَاضِرَاتٌ
4كَافِرَةٌكَافِرَاتٌ
5مُنَافِقَةٌمُنَافِقَاتٌ

 

C. Jamak Taksir

Jamak Taksir adalah bentuk  jamak yang tidak ada pola pasti dalam pembentukannya. Berbeda dengan dua jenis jamak terdahulu yang mempunyai cara pasti dalam membuat bentuk Jamaknya. Jadi jenis Jamak ini harus kita hafalkan bentuk jamak dari masing-masing Isim.

NoIsim MufrodJama' Taksir
1مَكْتَبٌمَكَاتِبُ
2كِتَابٌكُتُبٌ
3كُرْسِيٌّكَرَاسِيٌّ
4أُسْتَاذٌأَسَاتِذُ
5قَلَمٌأَقْلاَمٌ

 

Demikianlah jenis-jenis Jamak dalam Bahasa Arab.

 

 

Isim Mufrod, Isim Mutsanna dan Isim Jamak

Isim Mufrod, Isim Mutsanna dan Isim Jamak

Pada bagian sebelumnya kita telah belajar tentang klasifikasi Isim berdasarkan pada Jenisnya. Pada kali ini kita akan belajar bersama-sama tentang klasifikasi Isim berdasarkan Jumlahnya. Dalam Bahasa Arab Isim dibagi 3 jenis, yaitu bentuk tunggal, dual, dan jamak. Hal ini sedikit berbeda dengan Bahasa Inggris, dalam Bahasa Inggris hanya ada bentuk tunggal dan jamak saja.

Menurut Jumlahnya, Isim dibagi menjadi Tiga jenis, yaitu :

Pertama adalah Isim Mufrod, Isim Mufrod adalah Isim yang berjumlah tunggal atau satu. Bentuk dasar dari Isim adalah mufrod. Jika Anda mencari arti dari suatu kata benda di Kamus, Kata yang Anda temukan adalah kata tunggal atau disebut Isim Mufrod.

Kedua adalah Isim Mutsanna. Isim Mutsanna adalah Isim yang berjumlah Dua. Isim Mutsanna ini dapat dibuat dengan menambahkan Alif dan Nun di belakang Isim Mufrod.

Isim MufrodIsim Mutsanna
بَيْتٌrumah 1 buahبَيْتَانِrumah 2 buah
بَابٌpintu 1 buahبَابَانِpintu 2 buah
مَدْرَسَةٌsekolah 1 buahمَدْرَسَتَانِsekolah 2 buah
سَاعَةٌjam 1 buahسَاعَتَانِjam 2 buah
مَسْحِدٌmasjid 1 buahمَسْحِدَانِmasjid 2 buah

 

Ketiga adalah Isim Jamak. Isim Jamak adalah Isim yang berjumlah Tiga atau lebih. Isim Jamak dibagi menjadi Tiga macam, yaitu: Jamak Mudzakkar Salim, Jamak Muannats Salim, dan Jamak Taksir. Mengenai jenis-jenis Isim Jamak akan kita bahasa pada bagian selanjutnya.

 

 

Isim Muannats dan Isim Mudzakkar

Isim Muannats dan Isim Mudzakkar

Pada bagian ke-4, kita sudah belajar tentang Isim. Pada bagian ini dan beberapa bagian selanjutnya kita akan belajar tentang pembagian Isim berdasarkan kategori tertentu. Pada kali ini kita akan belajar tentang pembagian Isim menurut Jenisnya.

Menurut jenisnya, Isim dibagi menjadi dua, yaitu Isim Mudzakkar dan Isim Muannats.

Isim Mudzakkar adalah Isim yang dianggap "Laki-laki". Lantas apa saja ciri-ciriIsim Mudzakkar? Secara singkat ciri Isim Mudzakkar adalah:

A. Isim yang TIDAK berakhiran Ta' Marbuthah (ة). Contohnya adalah :

Rumahبَيْتٌ
Guruمُدَرِّسٌ
Mejaمَكْتَبٌ
Bukuكِتَابٌ
Pintuبَابٌ

 

B. Isim yang menunjukkan laki-laki (walaupun berakhiran Ta' Marbuthah),

Contohnya:

KeteranganArtiIsim
Nama OrangUsamahأُسَامَةٌ
Nama OrangMuawiyahمُعَاوِيَةٌ
Nama OrangHamzahحَمْزَةٌ

 

Isim Muannats adalah isim yang menunjukkan "Perempuan". Berikut adalah Ciri-ciri dan contoh Isim Muannats :

- Isim berakhiran Ta' Marbuthah.

- Nama Kota/Negara/Daerah

- Menunjukkan nama Perempuan walaupun tidak berakhiran Ta' Marbuthah.

- Jamak Taksir

 

Contohnya sebagai berikut:

Isim berakhiran Ta' Marbutohsekolahمَدْرَسَةٌ
jamسَاعَةٌ
Nama Perempuanfatimahفَتْمَى
lisaلِيْسَى
Nama NegaraIndonesiaإِنْدُوْنِسِيَا
Amerikaأَمْرِيْقَا
Jamak TaksirBuku-Bukuكُتُبٌ
Meja-Mejaمَكَاتِبُ

 

Apakah Jamak Taksir itu? Jamak Taksir adalah kata yang menunjukkan benda jamak (lebih dari 2) dan tidak ada pola yang teratur dalam pembentukannya. Lebih jelasnya akan kita bahas pada bab berikutnya.

 

 

Isim

Isim

Kita telah belajar bahwa kata dalam Bahasa Arab terdiri dari tiga jenis, salah satunya adalah Isim. Pada kali ini kita akan mempelajari Isim secara lebih jauh.

Isim secara bahasa artinya adalah Nama. Segala sesuatu yang mempunyai nama pasti adalah isim. Entah itu Nama Orang, Nama Hewan, Nama Tumbuhan, Nama Daerah, Nama Benda dan lainnya. Baik benda itu terlihat ataupun tidak terlihat.

Berikut ini adalah contoh beberapa Isim:

ISIMARTIKETERANGAN
أَحْمَدُAhmadNama Orang
قِطٌّKucingNama Hewan
بَنْدُنْجْBandungNama Kota/Tempat
بَيْتٌRumahNama Benda (terlihat)
لَجْنَةٌKepanitiaanNama Benda (tidak terlihat

 

Contoh di atas baru sebagian kecil saja. Masih banyak contoh-contoh isim yang lainnya.

 

Ciri - ciri Isim:

Ciri isim yang paling menonjol adalah bahwa isim bisa dimasuki oleh Tanwin  dan Lam Alif (ال)

 

 

Jenis Kata dalam Bahasa Arab

Jenis Kata dalam Bahasa Arab

Bahasa Arab sama seperti bahasa yang lain. Kalimat terdiri dari kumpulan beberapa kata. Jenis kata dalam Bahasa Arab terdiri dari 3 jenis, yaitu : ISIM, FI'IL dan HARF. berikut uraian singkat dari ketiga jenis kata tersebut.

ISIM adalah Kata Benda atau segala sesuatu yang dikategorikan kata benda baik yang terlihat ataupun yang tidak terlihat. Yang termasuk kata benda diantaranya adalah Nama Orang, Nama Hewan, Tumbuhan, Nama Kota/Negara dan Nama Benda lainnya. Benda hidup dan mati semuanya termasuk Isim.


FI'IL adalah Kata dalam Bahasa Arab yang menunjukkan suatu pekerjaan pada waktu tertentu. Setiap kata kerja dalam Bahasa Arab pasti Fi'il, baik pekerjaan yang disengaja (seperti belajar, makan, mencuci) maupun pekerjaan yang tidak disengaja (mengantuk, tidur, tertawa).mudah bukan?


HARF adalah kata dalam Bahasa Arab yang tidak dapat berdiri sendiri. contohnya : di atas, di dalam, ke, dari, dan lainnya. maksud tidak bisa berdiri sendiri adalah kata tersebut tidak mempunyai arti yang dapat dipahami jika tanpa didampingi kata yang lain. contohnya kata "di atas" saja, kita tidak bisa memahami apa maksudnya, akan timbul pertanyaan "siapa yang di atas?" atau "Apanya yang di atas?". oleh karena itu Harf selalu membutuhkan kata yang lain.


Demikian jenis kata dalam Bahasa Arab. Dalam artikel ini sengaja belum saya beri tulisan Arab sedikitpun dengan maksud untuk mempermudah logika berpikir para Pembaca yang masih sangat awam terhadap Bahasa Arab.


Pengertian Nahwu Shorof


Pengertian Nahwu Shorof


Tata Bahasa Arab secara garis besar terdiri dari dua hal, yaitu Nahwu dan Shorof.

Nahwu adalah kaidah atau aturan dalam tata bahasa Arab yang mengatur hubungan antar kata. Dalam istilah yang lebih umum disebut ilmu Sintaksis. Menurut kitab Mulakhos Qowaidul Lughoh, Nahwu adalah ilmu yang mempelajari kaidah untuk mengenal fungsi-fungsi kata yang masuk pada kalimat, mengenal hukum akhir kata, dan untuk mengenal cara mengi’rob.

Shorof adalah kaidah atau aturan dalam bahasa Arab yang mengatur perubahan suatu kata ke bentuk lainnya. Dalam istilah ilmu bahasa disebut Morfologi. Bahasa Arab bisa menjadi bahasa yang berusia sangat tua seperti saat ini salah satu penyebabnya karena bahasa Arab mempunyai Shorof ini. Sehingga apabila ada kosa kata baru yang muncul dalam bahasa Arab langsung dapat diketahui bahasa Arabnya dengan ilmu Shorof.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa Ilmu Nahwu adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar kata dalam bahasa Arab, Sedangkan Ilmu Shorof adalah ilmu yang mempelajari perubahan bentuk suatu kata.

Pendahuluan

Pendahuluan


Bahasa Arab adalah salah satu bahasa asing yang mempunyai tempat istimewa di Indonesia. Sejak kecil orang tua kita sudah menyuruh belajar membaca Al-Qur'an (yang berbahasa Arab). Bahkan sebagian masyarakat kita lebih dahulu bisa membaca Al-Qur'an daripada menguasai Bahasa Indonesia. Hal ini mungkin karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, dan sumber belajar agama Islam mayoritas berbahasa Arab.Sehingga ada tuntutan untuk lebih menguasai Bahasa Arab dibanding bahasa asing lain.

Harus kita akui bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang rumit. Banyak aspek yang sangat berbeda dibandingkan bahasa ibu kita. Intonasi, Tata Bahasa, Tulisan dan Strukturnya sangat jauh berbeda. Sehingga banyak orang Indonesia yang merasa sulit belajar Bahasa Arab. Di samping itu, sumber belajar Bahasa Arab yang sistematis masih jarang kita temui. Sumber belajar Bahasa Arab saat ini berupa "Kitab Kuning" yang seluruhnya berbahasa Arab dan tidak berharokat pula. Bagi orang awam yang ingin belajar Bahasa Arab tentu ini menjadi "momok" tersendiri.

Semoga Aplikasi ini dapat membantu teman-teman dalam mempelajari bahasa Arab dengan mudah.

Sabtu, 09 November 2024

Isim Ma'rifah dan Nakiroh - Pengertian dan Contohnya

Isim Ma'rifah dan Nakiroh - Pengertian dan Contohnya

Pembahasan mengenai isim ma’rifah dan nakiroh berkaitan erat dengan alif-lam dan tanwin pada isim. Mari kita sedikit mempelajari mengenai alif-lam dan tanwin pada isim terlebih dahulu.

Alif-lam dan Tanwin pada Isim

Isim Ma'rifah dan Nakiroh - Pengertian dan Contohnya

  Sebuah isim harus memiliki salah satu antara alif-lam atau tanwin, tidak boleh memiliki keduanya, dan tidak boleh terlepas dari keduanya (kecuali pada nama manusia atau bab idhofah).

Jenis kata yang dapat dimasuki Alif-lam dan Tanwin

  Tambahan alif-lam di awal kata hanya berlaku untuk isim dan tidak berlaku untuk fi'il dan harf.

Isim Ma'rifah dan Nakiroh - Pengertian dan Contohnya

Perbedaan Isim yang Menggunakan Alif-lam dan Tanwin

  Isim yang diawali oleh alif-lam dan tanwin adalah salah satu jenis isim ma’rifah.

  Sedangkan isim yang mungkin untuk memiliki alif-lam dan tanwin tetapi menggunkan tanwin adalah isim nakiroh.


Perhatikan contoh berikut beserta perbedaan artinya:

  1. Isim ma’rifah:

رَأَيْتُ الرَّجُلَ

aku telah melihat lelaki tersebut

  1. Isim nakiroh:

رَأَيْتُ رَجُلًا

aku telah melihat seorang lelaki


Tips: fungsi alif-lam pada Bahasa Arab sangat mirip dengan kata “the” dalam Bahasa Inggris.


Pengertian Isim Ma'rifah dan Nakiroh

Isim Ma'rifah adalah isim yang menunjuk pada sesuatu tertentu yang spesifik dan sudah jelas.


Isim Nakiroh adalah sebuah isim yang menunjuk pada sesuatu yang masih umum dan belum spesifik.


Contoh Isim Ma'rifah dan Nakiroh:

Isim Ma'rifah dan Nakiroh - Pengertian dan Contohnya
Koreksi typo: لَوْنُهُ

Penjelasan:

Isim yang berwarna merah adalah isim nakiroh karena sebelumnya tidak diketahui oleh pendengar sehingga diartikan "sebuah pena".

Sedangkan yang berwarna hijau adalah isim ma’rifah karena isim yang dimaksud telah diketahui oleh kedua pihak sehingga diartikan "pena itu/pena tersebut".

Contoh Lain Isim Ma'rifah dan Nakiroh (المَعْرِفَةُ وَالنَّكِرَةُ)

Isim Ma'rifah dan Nakiroh - Pengertian dan Contohnya
Isim Ma'rifah dan Nakiroh - Pengertian dan Contohnya

Penjelasan:

Kata "kesulitan" menggunakan alif-lam (ma’rifah), karena kesulitan yang dimaksud telah diketahui (sudah/sedang dialami).

Sedangkan "kemudahan" menggunakan isim nakiroh karena bersifat akan datang dan belum diketahui.

Jadi, pada setiap kesulitan yang sedang kita hadapi, pasti akan datang kemudahan yang tidak kita ketahui.


Kata yang Termasuk Isim Ma'rifah

Ada tujuh kategori isim yang termasuk ma’rifah:

  1. Isim yang berawalan alif-lam
  2. Isim dhomir (kata ganti)
  3. Isim Alam (nama orang)
  4. Isim isyarah (kata tunjuk)
  5. Isim maushul (kata sambung / kebanyakan berarti “yang”)
  6. Isim munada (yang dipanggil)
  7. Isim mudhof ila ma’rifah (kata yang disandarkan ke isim ma’rifah (pada bab idhofah))

Penjelasan singkat:

Semua kata tersebut adalah kata ma’rifah karena telah difahami oleh pihak yang berbicara maupun lawan biacara (sudah spesifik).

Contoh mudah:

  1. “Aku seorang murid”

Kata aku (isim dhomir/kata ganti) sudah sama-sama difahami karena merujuk pada diri sendiri.

  1. “Ali seorang guru”

Kata Ali (isim alam/nama orang) sudah spesifik karena pasti merujuk kepada individu bernama Ali yang sudah diketahui pembicara maupun pendengar.


Penutup

Alhamdulillah materi ini telah selesai. Semoga memberikan pemahaman lebih baik dalam mempelajari Bahasa Al-Qur’an. Allahumma Baarik lana.

Isim Isyarah (اسم الإشارة) - Pengertian, Jenis, dan Contoh Penggunaannya

Isim Isyarah (اسم الإشارة) - Pengertian, Jenis, dan Contoh Penggunaannya

  Isim isyarah adalah kata tunjuk atau kata isyarat. Ada dua jenis isim isyarah:

  • Untuk dekat (artinya ini).
  • Untuk jauh (artinya itu).

Perhatikan gambar berikut:

Isim Isyarah (اسم الإشارة) - Pengertian, Jenis, dan Contoh Penggunaannya

Contoh penggunaan isim isyarah dalam kalimat:

Pada isim mudzakkar yang dekat:

هَذَا قَلَمٌ

"Ini adalah pena"

Kata "قَلَمٌ" adalah isim mudzakkar, sehingga menggunakan isim isyarah "هَذَا".

Pada isim muannats yang dekat:

هَذَهِ سَبُّوْرَةٌ

"Ini adalah papan tulis"

Kata "سَبُّوْرَة" adalah isim muannats, sehingga menggunakan isim isyarah "هَذَهِ".

Pada isim mudzakkar yang jauh:

ذَلِكَ قَلَمٌ

"Itu adalah pena"

Kata "قَلَمٌ" adalah isim mudzakkar, sehingga menggunakan isim isyarah "ذَلِكَ".

Pada isim muannats yang jauh:

تِلْكَ سَبُّوْرَةٌ

"Itu adalah papan tulis"

Kata "سَبُّوْرَة" adalah isim muannats, sehingga menggunakan isim isyarah "تِلْكَ".


Isim isyarah untuk menunjukkan sesuatu yang berjumlah dua (mutsanna):

Isim Isyarah (اسم الإشارة) - Pengertian, Jenis, dan Contoh Penggunaannya

Contoh penggunaan isim isyarah untuk mutsanna (berjumlah dua):

هَذَانِ قَلَمَانِ

"Ini adalah dua pena"

tips: Untuk merubah jumlah isim menjadi dua, cukup ditambah huruf "انِ". Dua pena = قَلَمَانِ.

Isim isyarah untuk isim jamak (berjumlah banyak)

  Isim isyarah untuk menunjuk sesuatu yang banyak dibagi menjadi dua:

  1. Untuk isim jamak yang tidak berakal.

Contoh: buku-buku, rumah-rumah.

  1. Untuk isim jamak yang berakal.

Contoh: ibu-ibu, murid-murid.

Isim Isyarah (اسم الإشارة) - Pengertian, Jenis, dan Contoh Penggunaannya

Pada isim isyarah untuk jamak, kita tidak perlu memperhatikan muannats atau mudzakkar, cukup perhatikan berakal atau tidak berakal.

Contoh kalimat isim isyarah untuk jamak:

Tidak berakal:

هَذِهِ أَقْلَامٌ

"Ini adalah pena-pena"

هَذِهِ سَبُّوْرَ

"Ini adalah papan tulis (berjumlah banyak)"


Berakal:

هَؤُلَاءِ مُسْلِمُوْنَ

"Ini adalah orang-orang muslim (laki-laki)"

أُولَئِكَ مُسْلِمَاتٌ

"Itu adalah orang-orang muslim (perempuan)"


Isim isyarah untuk menunjukkan tempat:

Hanya ada dua kata tunjuk untuk tempat:

  1. هُنَا: Di sini
  2. هُنَاكَ: Di sana

Contoh kata tunjuk tempat dalam kalimat:

Kata tunjuk tempat untuk dekat (هُناَ):

المَسجِدُ هُناَ

“masjid (tersebut) di sini

Kata tunjuk tempat untuk jauh (هُناكَ):

المَدرَسَةُ هُناكَ

“sekolah itu di sana


Penutup:

Alhamdulillah materi ini telah selesai. Semoga memberikan pemahaman lebih baik dalam mempelajari Bahasa Al-Qur’an. Allahumma Baarik lana.

Isim Dhomir - Pengertian, Macam dan Contohnya

Kata ganti ada dua macam:

  1. Isim Dhomir Bariz (بَارِزٌ): Yang tampak atau tertulis.
  2. Isim Dhomir Mustatir (مُسْتَتِرٌ): Yang tidak tampak atau tidak tertulis.

Pada materi kali ini kita hanya akan belajar Isim Dhomir Bariz (tampak/tertulis) terlebih dahulu.

Isim Dhomir Bariz (tertulis/tampak) dibagi menjadi dua:

  1. Dhomir Muttasil: Isim dhomir yang menempel pada kata lain.
  2. Dhomir Munfashil: Isim dhomir yang tidak menempel pada kata lain.

Dhomir Munfashil (ضَمِيْرٌ مُنْفَصِلٌ) / yang terpisah

Dhomir Munfashil adalah dhomir (kata ganti) yang penulisannya wajib terpisah dari kata lain.

Contoh dhomir munfashil:

  • Saya adalah murid: أَنَا طَالِبٌ
  • Kamu adalah guru: أَنْتَ أُسْتَاذٌ

Pada contoh di atas penulisan kata ganti terpisah dari kata lainnya.

Hafalkanlah tabel dhomir munfashil di bawah ini:

Isim Dhomir - Pengertian, Macam dan Contohnya

Dhomir Muttasil (ضَمِيْرٌ مُتَّصِلٌ) / yang menempel:

Dhomir Muttasil adalah dhomir yang penulisannya menempel pada kata lain (isim, fi'il, maupun harf).

Contoh dhomir muttasil yang menempel pada Isim:

Isim Dhomir - Pengertian, Macam dan Contohnya

Contoh dhomir muttasil yang menempel pada Harf:

Isim Dhomir - Pengertian, Macam dan Contohnya

Contoh dhomir muttasil yang menempel pada Fi'il:

Isim Dhomir - Pengertian, Macam dan Contohnya

Fi'il berikut juga ditempeli oleh dhomir muttasil:

Isim Dhomir - Pengertian, Macam dan Contohnya

Tabel dhomir muttasil:

Isim Dhomir - Pengertian, Macam dan Contohnya

Penutup

Alhamdulillah materi ini telah selesai. Semoga memberikan pemahaman lebih baik dalam mempelajari Bahasa Al-Qur’an. 


Kata dalam Bahasa Arab (الكَلِمَةُ فِيْ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ) -

Kata dalam Bahasa Arab (الكَلِمَةُ فِيْ اللُّغَةِ العَرَبِيَّةِ) 

Ada tiga jenis kata dalam bahasa Arab:

  1. Ismun (اِسْمٌ)

Pengertian isim secara sederhana adalah kata benda atau nama sesuatu. Kata yang termasuk ismun adalah kata benda, sifat, dan nama sesuatu.

Contoh: meja, singa, besar, selatan.
  1. Fi’lun (فِعْلٌ)

Fi’lun adalah kata kerja. Semua kata kerja termasuk dalam kategori fi’lun.

Contoh: makan, tidur, dan istirahat.
  1. Harfun (حَرْفٌ)

Harfun adalah sebuah kata yang tidak menunjukkan suatu makna yang jelas tanpa bergabung dengan kata lainnya.

Harfun adalah semua kata yang bukan termasuk ismun dan fi’lun

Contoh: di, ke, dari, dan lain sebagainya.

Contoh kata yang termasuk Ismun (اِسْمٌ)

Sebelumnya kita telah tahu bahwa ismun adalah semua kata benda dan semua kata yang merupakan nama dari sesuatu. Termasuk kata sifat, nama waktu, arah, isyarat, kata ganti, dll.

Contoh:

Kata benda, hewan, atau tumbuhan, kata sifat, dll:

  • Besar : كَبِيْرٌ

  • Rumah : بَيْتٌ

  • Singa : أَسَدٌ

  • Pohon : شَجَرَةٌ

Nama dan kata ganti:

  • Ali : عَلِيٌ

  • Saya : أَنَا

  • Kamu : أَنْتَ

Kata penunjuk waktu, arah, isyarat, dll:

  • Jam : سَاعَةٌ

  • Hari : يَوْمٌ

  • Kamis : الخَمِيْسُ

  • Selatan : جَنُوْبٌ

  • Itu : ذَلِكَ

Ismun (اِسْمٌ) Mudzakkar dan Muannats (Isim berdasarkan jenisnya)

Ismun berdasarkan jenisnya dibagi menjadi dua:

1. Ismun Mudzakkar (اِسْمٌ مُذَكَّرٌ):

Isim yang tidak diakhiri dengan ة (ta’ marbutoh) atau nama laki-laki.

Contoh:

  • Pena : قَلَمٌ

  • Buku : كِتَابُ

Hamzah : حَمْزَةٌ (Termasuk mudzakkar karena nama orang laki-laki).

2. Ismun Muannats (اِسْمٌ مُؤَنَّثٌ):

Isim yang diakhiri dengan ة (ta’ marbutoh) atau nama wanita.

Contoh:

  • Papan tulis : سَبُّوْرَةٌ

  • Jendela : نَافِذَةٌ

  • Zainab : زَيْنَبُ (Muannats karena nama orang wanita).

Contoh kata yang termasuk Fi'il (فِعْلٌ)

Fi’lun adalah semua kata kerja. Contoh:

  • Makan: أَكَلَ - يَأْكُلُ
  • Tidur: نَامَ - يَنَامُ

Kenapa kata kerja ada dua kata?

  • Kata pertama disebut فِعْلٌ مَاضٍ untuk menunjukkan suatu pekerjaan di masa lampau. Artinya: "telah...".
  • Kata kedua disebut فِعْلٌ مُضَارِعٌ untuk menunjukkan suatu pekerjaan di masa sekarang atau depan. Artinya: "Dia sedang...".
  • Pada penggunaanya hanya satu kata saja yang digunakan.

Contoh kata yang termasuk harfun (حَرْفٌ):

Semua kata yang bukan termasuk ismun dan fi’lun adalah harfun.

Contoh harfun:

  • Ke : إلى

  • Dari : مِنْ

  • Di atas : عَلَى

  • Dengan : مَعَ

Kebanyakan "kata penghubung" termasuk harfun, tetapi ada juga kata lain yang termasuk harfun.

Kita akan mengenal lebih banyak jenis harfun pada materi selanjutnya (in syaa Allah).


Contoh identifikasi isim, fi'il, dan harf dalam kalimat:

عَلِيٌ يَجْلِسُ عَلَى الكُرْسِيِّ

(Ali duduk di atas kursi)

عَلِيٌّ : Isim karena Ali adalah nama orang.

يَجْلِسُ : Fi'il mudhori' (kata kerja untuk sekarang).

عَلَى : Harfun.

الكُرْسِيُّ : Ismun karena merupakan kata benda.


كَتَبَ مُحَمَّدٌ بِالقَلَمِ

(Muhammad telah menulis dengan pena)

كَتَبَ : Fi'il Madhi (kata kerja untuk masa lampau).

مُحَمَّدٌ : Isim (nama orang).

بِ : Harfun.

القَلَمِ : Ismun (kata benda).


Penutup

Alhamdulillah materi ini telah selesai. Semoga memberikan pemahaman lebih baik dalam mempelajari Bahasa Al-Qur’an. Allahumma Baarik lana.

Isim-Isim Yang khafadhkan (dijarkan)

 

Isim-Isim Yang khafadhkan (dijarkan)

بَابُ اَلْمَخْفُوضَاتِ مِنْ اَلْأَسْمَاءِ


اَلْمَخْفُوضَاتُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ  مَخْفُوضٌ بِالْحَرْفِ, وَمَخْفُوضٌ بِالْإِضَافَةِ, وَتَابِعٌ لِلْمَخْفُوضِ

فَأَمَّا اَلْمَخْفُوضُ بِالْحَرْفِ فَهُوَ مَا يَخْتَصُّ بِمِنْ, وَإِلَى, وَعَنْ, وَعَلَى, وَفِي, وَرُبَّ, وَالْبَاءِ, وَالْكَافِ, وَاللَّامِ, وَبِحُرُوفِ اَلْقَسَمِ, وَهِيَ اَلْوَاوُ, وَالْبَاءُ, وَالتَّاءُ, وَبِوَاوِ رُبَّ, وَبِمُذْ, وَمُنْذُ.

وَأَمَّا مَا يُخْفَضُ بِالْإِضَافَةِ, فَنَحْوُ قَوْلِكَ "غُلَامُ زَيْدٍ" وَهُوَ عَلَى قِسْمَيْنِ مَا يُقَدَّرُ بِاللَّامِ, وَمَا يُقَدَّرُ بِمِنْ; فَاَلَّذِي يُقَدَّرُ بِاللَّامِ نَحْوُ "غُلَامُ زَيْدٍ" وَاَلَّذِي يُقَدَّرُ بِمِنْ, نَحْوُ "ثَوْبُ خَزٍّ" وَ"بَابُ سَاجٍ" وَ"خَاتَمُ حَدِيدٍ .

والله اعلم با الصواب



Isim-isim yang dikhafadhkan itu ada tiga bagian :

1. Dikhafadhkan dengan huruf khafadh
2. Dikhafadhkan dengan idhafah
3. Dikhafadhkan karena mengikuti yang sebelumnya

Adapun yang dijarkan dengan huruf yaitu apa-apa yang dijarkan dengan huruf

مِنْ, وَإِلَى, وَعَنْ, وَعَلَى, وَفِي, وَرُبَّ, وَالْبَاءِ, وَالْكَافِ, وَاللَّامِ,

dan dengan huruf sumpah yaitu

اَلْوَاوُ, وَالْبَاءُ, وَالتَّاءُِdan dengan مُذْ, وَمُنْذُ.

Adapun yang dijarkan dengan idhafah maka contohnya: غُلَامُ زَيْدٍ dan yang dijarkan dengan idhafah itu ada dua, pertama yang ditaqdirkan dengan lam dan kedua yang ditakdirkan dengan min.

Maka yang ditaqdirkan dengan lam contohnya: غُلَامُ زَيْدٍ

Dan yang ditaqdirkan dengan min contohnya: ثَوْبُ خَزٍّ وَبَابُ سَاجٍ وَخَاتَمُ حَدِيدٍ

Maf'ul Ma'ah

 

Maf'ul Ma'ah

بَابُ اَلْمَفْعُولِ مَعَهُ


وَهُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَنْصُوبُ, اَلَّذِي يُذْكَرُ لِبَيَانِ مَنْ فُعِلَ مَعَهُ اَلْفِعْلُ, نَحْوَ قَوْلِكَ "جَاءَ اَلْأَمِيرُ وَالْجَيْشَ" وَ"اِسْتَوَى اَلْمَاءُ وَالْخَشَبَةَ". 

وأما خَبَرُ "كَانَ" وَأَخَوَاتِهَا, وَاسْمُ "إِنَّ" وَأَخَوَاتِهَا, فَقَدْ تَقَدَّمَ ذِكْرُهُمَا فِي اَلْمَرْفُوعَاتِ, وَكَذَلِكَ اَلتَّوَابِعُ; فَقَدْ تَقَدَّمَتْ هُنَاكَ.



Maf’ul ma’ah adalah isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan sesuatu yang bersamanya dilakukan suatu perbuatan. Contohnya :

جَاءَ اَلْأَمِيرُ وَالْجَيْشَ وَاِسْتَوَى اَلْمَاءُ وَالْخَشَبَةَ

Adapun khabar kaana dan saudara-saudaranya dan ismu inna dan saudara-saudaranya maka sungguh telah diberikan penjelasannya pada bab isim-isim yang dirafa’akan begitu juga dengan yang mengikut dinashabkan (na’at, ‘athaf, taukid, badal) telah dijelaskan disana.

Maf'ul Min Ajlih

 

Maf'ul Min Ajlih

بَابُ اَلْمَفْعُولِ لِأَجْلِهِ


وَهُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَنْصُوبُ, اَلَّذِي يُذْكَرُ بَيَانًا لِسَبَبِ وُقُوعِ اَلْفِعْلِ, نَحْوَ قَوْلِكَ "قَامَ زَيْدٌ إِجْلَالًا لِعَمْرٍو" وَ"قَصَدْتُكَ اِبْتِغَاءَ مَعْرُوفِكَ".

Maf’ul min ajlih adalah isim yang dinashabkan yang disebut untuk menjelaskan sebab-sebab terjadinya suatu perbuatan. Contohnya :
قَامَ زَيْدٌ إِجْلَالًا لِعَمْرٍو وَقَصَدْتُكَ اِبْتِغَاءَ مَعْرُوفِكَ

Munada (Yg Dipanggil)

 

Munada (Yg Dipanggil)

بَابُ اَلْمُنَادَى


اَلْمُنَادَى خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ : المفرد اَلْعَلَمُ, وَالنَّكِرَةُ اَلْمَقْصُودَةُ, وَالنَّكِرَةُ غَيْرُ اَلْمَقْصُودَةِ, وَالْمُضَافُ, وَالشَّبِيهُ بِالْمُضَافِ

فَأَمَّا اَلْمُفْرَدُ اَلْعَلَمُ وَالنَّكِرَةُ اَلْمَقْصُودَةُ فَيُبْنَيَانِ عَلَى اَلضَّمِّ مِنْ غَيْرِ تَنْوِينٍ, نَحْوَ "يَا زَيْدُ" وَ"يَا رَجُلُ"

وَالثَّلَاثَةُ اَلْبَاقِيَةُ مَنْصُوبَةٌ لَا غَيْرُ.



Munada itu ada lima, yaitu

.1المفرد اَلْعَلَمُ,(nama-nama)
.2 وَالنَّكِرَةُ اَلْمَقْصُودَةُ,(nakirah yang termaksud)
.3 وَالنَّكِرَةُ غَيْرُ اَلْمَقْصُودَةِ,(nakirah yang tidak termaksud)
.4 وَالْمُضَافُ,(yang diidhafahkan)
.5 وَالشَّبِيهُ بِالْمُضَافِ (yang menyerupai mudhaf)

Adapun mufrad ‘alam dan nakirah maqsudah maka ia dimabnikan atas dhammah dengan tanpa tanwin.

contohnya: يَا زَيْدُ وَيَا رَجُلُ

Dan tiga munada sisanya itu tidak lain dinashabkan.

Laa

 

Laa

بَابُ لَا


اِعْلَمْ أَنَّ "لَا" تَنْصِبُ اَلنَّكِرَاتِ بِغَيْرِ تَنْوِينٍ إِذَا بَاشَرَتْ اَلنَّكِرَةَ وَلَمْ تَتَكَرَّرْ "لَا" نَحْوَ "لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ"

فَإِنْ لَمْ تُبَاشِرْهَا وَجَبَ اَلرَّفْعُ وَوَجَبَ تَكْرَارُ "لَا" نَحْوَ لَا فِي اَلدَّارِ رَجُلٌ وَلَا اِمْرَأَةٌ"

فَإِنْ تَكَرَّرَتْ "لَا" جَازَ إِعْمَالُهَا وَإِلْغَاؤُهَا, فَإِنْ شِئْتَ قُلْتُ "لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةَ". 

فَإِنْ شِئْتَ قُلْتُ "لَا رَجُلٌ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةٌ".



Ketahuilah! Bahwa apabila laa bertemu langsung dengan isim nakirah maka laa menashabkan isim nakirah dengan tanpa tanwin dan tidak mengulang-ulang laa.

Contohnya : لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ

Jika laa tidak bertemu langsung dengan nakirah maka wajib mengulang-ulang laa.

Contohnya : لَا فِي اَلدَّارِ رَجُلٌ وَلَا اِمْرَأَةٌ

Jika mengulang-ulang laa (berarti bertemu langsung dengan nakirah), maka boleh mengamalkannya (menjadikan laa sebagai amil yang menashabkan) atau menyia-nyiakannya.

Maka jika kamu suka, kamu katakan : لَا رَجُلَ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةَ

Dan jika kamu suka, kamu katakan:

لَا رَجُلٌ فِي اَلدَّارِ وَلَا اِمْرَأَةٌ".

Istitsna

 

Istitsna

بَابُ اَلِاسْتِثْنَاء


وَحُرُوفُ اَلِاسْتِثْنَاءِ ثَمَانِيَةٌ وَهِيَ إِلَّا, وَغَيْرُ, وَسِوَى, وَسُوَى, وَسَوَاءٌ, وَخَلَا, وَعَدَا, وَحَاشَا

فَالْمُسْتَثْنَى بِإِلَّا يُنْصَبُ إِذَا كَانَ اَلْكَلَامُ تَامًّا مُوجَبًا, نَحْوَ "قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدًا" وَ"خَرَجَ اَلنَّاسُ إِلَّا عَمْرًا" وَإِنْ كَانَ اَلْكَلَامُ مَنْفِيًّا تَامًّا جَازَ فِيهِ اَلْبَدَلُ وَالنَّصْبُ عَلَى اَلِاسْتِثْنَاءِ, نَحْوَ "مَا قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدٌ" وَ"إِلَّا زَيْدًا" وَإِنْ كَانَ اَلْكَلَامُ نَاقِصًا كَانَ عَلَى حَسَبِ اَلْعَوَامِلِ, نَحْوَ "مَا قَامَ إِلَّا زَيْدٌ" وَ"مَا ضَرَبْتُ إِلَّا زَيْدًا" وَ"مَا مَرَرْتُ إِلَّا بِزَيْدٍ"

وَالْمُسْتَثْنَى بِغَيْرٍ, وَسِوَى, وَسُوَى, وَسَوَاءٍ, مَجْرُورٌ لَا غَيْرُ

وَالْمُسْتَثْنَى بِخَلَا, وَعَدَا, وَحَاشَا, يَجُوزُ نَصْبُهُ وَجَرُّهُ, نَحْوَ "قَامَ اَلْقَوْمُ خَلَا زَيْدًا, وَزَيْدٍ" وَ"عَدَا عَمْرًا وَعَمْرٍو" وَ"حَاشَا بَكْرًا وَبَكْرٍ".



Huruf istitsna itu ada delapan, yaitu :

إِلَّا, وَغَيْرُ, وَسِوَى, وَسُوَى, وَسَوَاءٌ, وَخَلَا, وَعَدَا, وَحَاشَا

Maka mustatsna (kalimat yang di istitsnakan) dengan huruf illaa dinashabkan jika kalamnya taam mujab contohnya :

قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدًا" وَ"خَرَجَ اَلنَّاسُ إِلَّا عَمْرًا

Jika kalamnya manfiy taam, maka boleh menjadikannya badal atau menashabkannya karena istitsna contohnya :

مَا قَامَ اَلْقَوْمُ إِلَّا زَيْدٌ" وَ"إِلَّا زَيْدًا

Jika kalamnya naaqish (kurang), maka i’rabnya sesuai dengan amil-amilnya. Contohnya:

"مَا قَامَ إِلَّا زَيْدٌ" وَ"مَا ضَرَبْتُ إِلَّا زَيْدًا" وَ"مَا مَرَرْتُ إِلَّا بِزَيْدٍ

Dan Mustatsna dengan khalaa, ‘adaa, dan haasyaa maka boleh kita menashabkannya atau menjarkannya. Contohnya :

"قَامَ اَلْقَوْمُ خَلَا زَيْدًا وَزَيْدٍ" وَ"عَدَا عَمْرًا وَعَمْرٍو" وَ"حَاشَا بَكْرًا وَبَكْرٍ".

Tamyiz

 

Tamyiz

بَابُ اَلتَّمْيِيزِ


اَلتَّمْيِيزُ هُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَنْصُوبُ, اَلْمُفَسِّرُ لِمَا اِنْبَهَمَ مِنْ اَلذَّوَاتِ, نَحْوَ قَوْلِكَ "تَصَبَّبَ زَيْدٌ عَرَقًا", وَ"تَفَقَّأَ بَكْرٌ شَحْمًا" وَ"طَابَ مُحَمَّدٌ نَفْسًا" وَ"اِشْتَرَيْتُ عِشْرِينَ غُلَامًا" وَ"مَلَكْتُ تِسْعِينَ نَعْجَةً" وَ"زَيْدٌ أَكْرَمُ مِنْكَ أَبًا" وَ"أَجْمَلُ مِنْكَ وَجْهًا"
وَلَا يَكُونُ إِلَّا نَكِرَةً, وَلَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ تَمَامِ اَلْكَلَامِ.



Tamyiz adalah isim yang dinashabkan yang menjelaskan dzat yang sebelumnya samar.

Contohnya :

"تَصَبَّبَ زَيْدٌ عَرَقًا", وَ"تَفَقَّأَ بَكْرٌ شَحْمًا" وَ"طَابَ مُحَمَّدٌ نَفْسًا" وَ"اِشْتَرَيْتُ عِشْرِينَ غُلَامًا" وَ"مَلَكْتُ تِسْعِينَ نَعْجَةً" وَ"زَيْدٌ أَكْرَمُ مِنْكَ أَبًا" وَ"أَجْمَلُ مِنْكَ وَجْهًا"


Tamyiz itu pasti nakirah dan tamyiz hanya terjadi setelah kalamnya sempurna

Haal

 

Haal

بَابُ اَلْحَالِ


اَلْحَالُ هُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَنْصُوبُ, اَلْمُفَسِّرُ لِمَا اِنْبَهَمَ مِنْ اَلْهَيْئَاتِ, نَحْوَ قَوْلِكَ "جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا" وَ"رَكِبْتُ اَلْفَرَسَ مُسْرَجًا" وَ"لَقِيتُ عَبْدَ اَللَّهِ رَاكِبًا" وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ

وَلَا يَكُونَ اَلْحَالُ إِلَّا نَكِرَةً, وَلَا يَكُونُ إِلَّا بَعْدَ تَمَامِ اَلْكَلَامِ, وَلَا يَكُونُ صَاحِبُهَا إِلَّا مَعْرِفَةً.



Haal adalah isim yang dinashabkan yang menjelaskan tata cara yang sebelumnya samar.

Contohnya


جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا" وَ"رَكِبْتُ اَلْفَرَسَ مُسْرَجًا" وَ"لَقِيتُ عَبْدَ اَللَّهِ رَاكِبًا"

Haal itu pasti nakirah dan haal itu hanya terjadi setelah kalamnya sempurna dan shahibul haal itu pasti ma’rifat.

Dharaf Zaman & Dharaf Makan

 

Dharaf Zaman & Dharaf Makan

بَابُ ظَرْفِ اَلزَّمَانِ وَظَرْفِ اَلْمَكَانِ


ظَرْفُ اَلزَّمَانِ هُوَ اِسْمُ اَلزَّمَانِ اَلْمَنْصُوبُ بِتَقْدِيرِ "فِي" نَحْوَ اَلْيَوْمِ, وَاللَّيْلَةِ, وَغَدْوَةً, وَبُكْرَةً, وَسَحَرًا, وَغَدًا, وَعَتَمَةً, وَصَبَاحًا, وَمَسَاءً, وَأَبَدًا, وَأَمَدًا, وَحِينًا وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ

وَظَرْفُ اَلْمَكَانِ هُوَ 
اِسْمُ اَلْمَكَانِ اَلْمَنْصُوبُ بِتَقْدِيرِ "فِي" نَحْوَ أَمَامَ, وَخَلْفَ, وَقُدَّامَ, وَوَرَاءَ, وَفَوْقَ, وَتَحْتَ, وَعِنْدَ, وَمَعَ, وَإِزَاءَ, وَحِذَاءَ, وَتِلْقَاءَ, وَثَمَّ, وَهُنَا, وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.



Dzharaf zaman itu adalah isim zaman yang dinashabkan dengan taqdir maknanya fi (pada). Contoh dzharaf zaman :

اَلْيَوْمِ, وَاللَّيْلَةِ, وَغَدْوَةً, وَبُكْرَةً, وَسَحَرًا, وَغَدًا, وَعَتَمَةً, وَصَبَاحًا, وَمَسَاءً, وَأَبَدًا, وَأَمَدًا, وَحِينًا

Dzharaf makan adalah isim makan yang dinashabkan dengan taqdir maknanya fi (pada). Contohnya:

أَمَامَ, وَخَلْفَ, وَقُدَّامَ, وَوَرَاءَ, وَفَوْقَ, وَتَحْتَ, وَعِنْدَ, وَمَعَ, وَإِزَاءَ, وَحِذَاءَ, وَتِلْقَاءَ, وَثَمَّ, وَهُنَا

Masdar

 

Masdar

بَابُ اَلْمَصْدَرِ


اَلْمَصْدَرُ هُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَنْصُوبُ, اَلَّذِي يَجِيءُ ثَالِثًا فِي تَصْرِيفِ اَلْفِعْلِ, ، نحو ضَرَبَ يَضْرِبُ ضَرْبًا

وَهُوَ قِسْمَانِ 
لَفْظِيٌّ وَمَعْنَوِيٌّ, فَإِنْ وَافَقَ لَفْظُهُ لَفْظَ فِعْلِهِ فَهُوَ لَفْظِيٌّ, نَحْوَ قَتَلْتُهُ قَتْلًا

وَإِنْ وَافَقَ مَعْنَى فِعْلِهِ دُونَ لَفْظِهِ فَهُوَ مَعْنَوِيٌّ ، نحو 
جَلَسْتُ قُعُودًا, ، وقمت وُقُوفًا, ، وما أَشْبَهَ ذَلِكَ.



Mashdar adalah isim yang dinashabkan yang datang menempati tempat ketiga dalam tashrif fi’il. Contohnya :

ضَرَبَ يَضْرِبُ ضَرْبًا

Mashdar terbagi dua :

1. Lafdzhy
2. Ma’nawy

Jika lafazdh mashdarnya bersesuaian dengan lafadzh fi’ilnya maka itu termasuk mashdar lafdzhy contohnya :

قَتَلْتُهُ قَتْلًا

Dan jika mashdarnya bersesuaian dengan makna fi’ilnya bukan lafadhznya maka itu adalah mashdar ma’nawy. Contohnya :

جَلَسْتُ قُعُودًا, ، وقمت وُقُوفًا

Maf'ul Bih

 

Maf'ul Bih

بَابُ اَلْمَفْعُولِ بِهِ


وَهُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَنْصُوبُ, اَلَّذِي يَقَعُ بِهِ اَلْفِعْلُ, نَحْوَ ضَرَبْتُ زَيْدًا, وَرَكِبْتُ اَلْفَرَسَ

وَهُوَ قِسْمَانِ 
ظَاهِرٌ, وَمُضْمَرٌ

فَالظَّاهِرُ 
مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ

وَالْمُضْمَرُ قِسْمَانِ 
مُتَّصِلٌ, وَمُنْفَصِلٌ

فَالْمُتَّصِلُ اِثْنَا عَشَرَ, وَهِيَ 
ضَرَبَنِي, وَضَرَبَنَا, وَضَرَبَكَ, وَضَرَبَكِ, وَضَرَبَكُمَا, وَضَرَبَكُمْ, وَضَرَبَكُنَّ, وَضَرَبَهُ, وَضَرَبَهَا, وَضَرَبَهُمَا, وَضَرَبَهُمْ, وَضَرَبَهُنَّ

وَالْمُنْفَصِلُ اِثْنَا عَشَرَ, وَهِيَ 
إِيَّايَ, وَإِيَّانَا, وَإِيَّاكَ, وَإِيَّاكِ, وَإِيَّاكُمَا, وَإِيَّاكُمْ, وَإِيَّاكُنَّ, وَإِيَّاهُ, وَإِيَّاهَا, وَإِيَّاهُمَا, وَإِيَّاهُمْ, وَإِيَّاهُنَّ.



Maf’ul bih adalah isim yang dinashabkan yang dikenakan padanya suatu perbuatan. Contohnya :

ضَرَبْتُ زَيْدًا, وَرَكِبْتُ اَلْفَرَسَ

Maf’ul bih itu ada dua bagian, yaitu maf’ul bih dzhahir dan maf’ul bih dhamir.

Maf’ul bih dzhahir telah dijelaskan sebelumnya (pada bab-bab yang menjelaskan tentang dzhahir).

Sedangkan maf’ul bih dhamir itu terbagi menjadi dua:

1. Muttashil (bersambung)
Maf’ul bih dhamir muttashil ada dua belas, yaitu :

ضَرَبَنِي, وَضَرَبَنَا, وَضَرَبَكَ, وَضَرَبَكِ, وَضَرَبَكُمَا, وَضَرَبَكُمْ, وَضَرَبَكُنَّ, وَضَرَبَهُ, وَضَرَبَهَا, وَضَرَبَهُمَا, وَضَرَبَهُمْ, وَضَرَبَهُنَّ

2. Munfashil (terpisah)
Maf’ul bih dhamir munfashil ada dua belas, yaitu:

إِيَّايَ, وَإِيَّانَا, وَإِيَّاكَ, وَإِيَّاكِ, وَإِيَّاكُمَا, وَإِيَّاكُمْ, وَإِيَّاكُنَّ, وَإِيَّاهُ, وَإِيَّاهَا, وَإِيَّاهُمَا, وَإِيَّاهُمْ, وَإِيَّاهُنَّ.

Isim Yg Dinashobkan

 

Isim Yg Dinashobkan

بَابُ مَنْصُوبَاتِ اَلْأَسْمَاءِِ


اَلْمَنْصُوبَاتُ خَمْسَةَ عَشَرَ, وَهِيَ اَلْمَفْعُولُ بِهِ, وَالْمَصْدَرُ, وَظَرْفُ اَلزَّمَانِ وَظَرْفُ اَلْمَكَانِ, وَالْحَالُ, وَالتَّمْيِيزُ, وَالْمُسْتَثْنَى, وَاسْمُ لَا, وَالْمُنَادَى, وَالْمَفْعُولُ مِنْ أَجْلِهِ, وَالْمَفْعُولُ مَعَهُ, وَخَبَرُ كَانَ وَأَخَوَاتِهَا, وَاسْمُ إِنَّ وَأَخَوَاتِهَا، وَالتَّابِعُ لِلْمَنْصُوبِ، وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءٍ: النَّعْتُ وَالْعَطْفُ وَالتَّوْكِيدُ وَالْبَدَلُ..



Isim-isim yang dinashabkan itu ada lima belas

1. Maf’ul bih
2. Mashdar
3. Dzharaf zaman
4. Dzharaf makan
5. Hal
6. Tamyiz
7. Mustatsna
8. Isim Laa
9. Munada
10. Maf’ul min ajlih
11. Maf’ul ma’ah
12. Khabar kaana
13. Isim inna
14. khabar saudara kaana dan isim saudara inna
15. Yang mengikut dinashabkan, yaitu ada empat : na’at, ‘athaf, taukid, dan badal

Badal

 

Badal

بَابُ اَلْبَدَلِ


إِذَا أُبْدِلَ اِسْمٌ مِنْ اِسْمٍ أَوْ فِعْلٌ مِنْ فِعْلٍ تَبِعَهُ فِي جَمِيعِ إِعْرَابِهِ

وَهُوَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ 
 بَدَلُ اَلشَّيْءِ مِنْ اَلشَّيْءِ, وَبَدَلُ اَلْبَعْضِ مِنْ اَلْكُلِّ, وَبَدَلُ اَلِاشْتِمَالِ, وَبَدَلُ اَلْغَلَطِ, نَحْوَ قَوْلِكَ "قَامَ زَيْدٌ أَخُوكَ, وَأَكَلْتُ اَلرَّغِيفَ ثُلُثَهُ, وَنَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ, وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَ", أَرَدْتَ أَنْ تَقُولَ رَأَيْتُ اَلْفَرَسَ فَغَلِطْتَ فَأَبْدَلْتَ زَيْدًا مِنْه.



Badal

Apabila dibadalkan isim dengan isim atau fi’il dengan fi’il maka mengikuti badalnya itu pada seluruh i’rabnya. Badal itu ada empat:

1. بَدَلُ اَلشَّيْءِ مِنْ اَلشَّيْء
2. َبَدَلُ اَلْبَعْضِ مِنْ اَلْكُلِّ
3. َبَدَلُ اَلِاشْتِمَالِ
4. َبَدَلُ اَلْغَلَطِ

Contohnya


"قَامَ زَيْدٌ أَخُوكَ, وَأَكَلْتُ اَلرَّغِيفَ ثُلُثَهُ, وَنَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ, وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَ

Kamu ingin berkata al farasa (kuda) akan tetapi kamu ternyata salah, رَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَ maka kamu ganti dengan zaidan menjadi

Taukid

 

Taukid

بَابُ اَلتَّوْكِيدِ


اَلتَّوْكِيدُ "تابع لِلْمُؤَكَّدِ فِي رَفْعِهِ وَنَصْبِهِ وَخَفْضِهِ وَتَعْرِيفِهِ".

وَيَكُونُ بِأَلْفَاظٍ مَعْلُومَةٍ, وَهِيَ 
اَلنَّفْسُ, وَالْعَيْنُ, وَكُلُّ, وَأَجْمَعُ, وَتَوَابِعُ أَجْمَعَ, وَهِيَ أَكْتَعُ, وَأَبْتَعُ, وَأَبْصَعُ, تَقُولُ قَامَ زَيْدٌ نَفْسُهُ, وَرَأَيْتُ اَلْقَوْمَ كُلَّهُمْ, وَمَرَرْتُ بِالْقَوْمِ أَجْمَعِينَ.



Taukid (Menekankan / Menguatkan)

Taukid itu mengikuti yang diperkuat dalam keadaan rafa’nya, nashabnya, khafadhnya, dan ma’rifatnya. Taukid itu telah tertentu lafadzh-lafazhnya, yaitu :

اَلنَّفْسُ, وَالْعَيْنُ, وَكُلُّ, وَأَجْمَعُ

Dan yang mengikuti ajma’u, yaitu

أَكْتَعُ, وَأَبْتَعُ, وَأَبْصَعُ

Contohnya :

قَامَ زَيْدٌ نَفْسُهُ, وَرَأَيْتُ اَلْقَوْمَ كُلَّهُمْ, وَمَرَرْتُ بِالْقَوْمِ أَجْمَعِينَ

Athof

 

'Athof

بَابُ اَلْعَطْفِ


وَحُرُوفُ اَلْعَطْفِ عَشَرَةٌ وَهِيَ
اَلْوَاوُ, وَالْفَاءُ, وَثُمَّ, وَأَوْ, وَأَمْ, وَإِمَّا, وَبَلْ, وَلَا, وَلَكِنْ, وَحَتَّى فِي بَعْضِ اَلْمَوَاضِعِ

فَإِنْ عُطِفَتْ عَلَى مَرْفُوعٍ رُفِعَتْ  أَوْ عَلَى مَنْصُوبٍ نُصِبَتْ, أَوْ عَلَى مَخْفُوضٍ خُفِضَتْ, أَوْ عَلَى مَجْزُومٍ جُزِمَتْ, تَقُولُ "قَامَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو, وَرَأَيْتُ زَيْدًا وَعَمْرًا, وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَعَمْرٍو, وَزَيْدٌ لَمْ يَقُمْ وَلَمْ يَقْعُدْ".



'Athof

Huruf ‘athaf ada sepuluh, yaitu

اَلْوَاوُ, وَالْفَاءُ, وَثُمَّ, وَأَوْ, وَأَمْ, وَإِمَّا, وَبَلْ, وَلَا, وَلَكِنْ, وَحَتَّى فِي بَعْضِ اَلْمَوَاضِعِ

Waw, fa, tsumma, aw, am, imma, bal, la, laakin, dan hatta.

Jika kamu athafkan dalam keadaan rafa’ maka rafa’akan, dalam keadan nashab maka nashabkan, dalam keadaan khafad maka khafadhkan, dalam keadaan jazm maka jazmkan.

Contohnya

"قَامَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو, وَرَأَيْتُ زَيْدًا وَعَمْرًا, وَمَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَعَمْرٍو, وَزَيْدٌ لَمْ يَقُمْ وَلَمْ يَقْعُدْ

Mubtada' & Khobar

 

Mubtada' & Khobar

بَابُ اَلْمُبْتَدَأِ وَالْخَبَرِ


اَلْمُبْتَدَأُ : هو اَلِاسْمُ اَلْمَرْفُوعُ اَلْعَارِي عَنْ اَلْعَوَامِلِ اَللَّفْظِيَّةِ

وَالْخَبَرُ 
هُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَرْفُوعُ اَلْمُسْنَدُ إِلَيْهِ, نَحْوَ قَوْلِكَ "زَيْدٌ قَائِمٌ" وَ"الزَّيْدَانِ قَائِمَانِ" وَ"الزَّيْدُونَ قَائِمُونَ " .

والمبتدأ قِسْمَانِ 
ظَاهِرٌ وَمُضْمَرٌ

فَالظَّاهِرُ 
مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ

والمضمر اثنا عشر وهى
أنا ونحن وأنتَ وأنتِ و وأنتما وأنُتم وأنتن وهو وهى وهما وهم وهن نحو قولك (أنا قائم) و(نحن قائمون) وما أشبه ذلك

والخبر
 قسمان : مفرد وغير مفرد

فالمفرد
 نحو زيد قائم

وغير المفرد (اربعة اشياء )الجار والمجرور والظرف والفعل مع فاعله والمبتدأ مع خبره نحة قولك : (زيد فى الدار) وزيد عندك وزيد قام ابوه وزيد جاريته زاهبة)



Mubtada dan khabar

Mubtada adalah isim yang dirafa’kan yang terbebas dari amil-amil lafadzh.

Khabar adalah isim yang dirafa’akan yang disandarkan kepada mubtada’. Contohnya :

"زَيْدٌ قَائِمٌ" وَ"الزَّيْدَانِ قَائِمَانِ" وَ"الزَّيْدُونَ قَائِمُونَ "

Mubtada itu ada dua bagian, yaitu mubtada isim dzahir dan mubtada isim dhamir

Mubtada isim dzahir itu adalah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya (seperti contoh di atas)

Mubtada isim dhamir itu ada dua belas :

أنا ونحن وأنتَ وأنتِ و وأنتما وأنُتم وأنتن وهو وهى وهما وهم وهن

Dan apa-apa yang menyerupai contoh ini(أنا قائم) و(نحن قائمون)

Khabar itu ada dua bagian, yaitu khabar mufrad dan khabar ghair (bukan) mufrad.

Khabar mufrad contohnya زيد قائم

Khabar ghair mufrad itu ada empat

1. Jar dan majrur
2. dzharaf
3. fi’il beserta faa’ilnya
4. Mubtada beserta khabarnya.

Contohnya: (زيد فى الدار وزيد عندك وزيد قام ابوه وزيد جاريته ذاهبة)


Amil-amil yang masuk kepada mubtada dan khabar

Amil-amil yang masuk kepada mubtada dan khabar itu ada tiga macam, yaitu kaana dan saudara-saudaranya, innna dan saudara-saudaranya dan dzhanna (dzhanantu) dan saudara-saudaranya.


Adapun kaana dan saudara-saudaranya mereka merafa’kan isim (mubtada) dan menashabkan khabar.

kaana dan suadara-saudaranya itu adalah : كَانَ, وَأَمْسَى, وَأَصْبَحَ, وَأَضْحَى, وَظَلَّ, وَبَاتَ, وَصَارَ, وَلَيْسَ, وَمَا زَالَ, وَمَا اِنْفَكَّ, وَمَا فَتِئَ, وَمَا بَرِحَ, وَمَا دَامَ,

dan apa-apa yang bisa ditashrif dari semuanya, seperti :

َ كَانَ, وَيَكُونُ, وَكُنْ, وَأَصْبَحَ وَيُصْبِحُ وَأَصْبِحْ,

Contohnya :

"كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا, وَلَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا"

Adapun inna dan saudara-saudaranya mereka menashabkan mubtada dan merafa’kan khabar.

inna dan saudara-saudaranya adalah :

إِنَّ، وَأَنَّ، وَلَكِنَّ، وَكَأَنَّ، وَلَيْتَ، وَلَعَلَّ،

ٌcontohnya : إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ، وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِص

Makna inna dan anna adalah untuk taukid (penekanan), laakinna untuk istidraak (mempertentangkan), kaanna untuk tasybih (penyerupaan), laita untuk tamanniy (pengandaian), la’alla untuk tarajiy (pengharapan kebaikan) dan tawaqqu’ (ketakutan dari nasib buruk).

Adapun dzhanantu (dzhanna) dan saudara-saudaranya mereka menashabkan mubtada dan khabar karena keduanya itu (mubtada dan khabar) adalah maf’ul bagi dzhanna dan saudara-saudaranya.
Dzhanantu dan saudara-saudaranya itu :

ظَنَنْتُ، وَحَسِبْتُ، وَخِلْتُ، وَزَعَمْتُ، وَرَأَيْتُ، وَعَلِمْتُ، وَوَجَدْتُ، وَاتَّخَذْتُ، وَجَعَلْتُ، وَسَمِعْتُ؛

اcontohnya :

ظَنَنْتُ زَيْدًا قَائِمًا، وَرَأَيْتُ عَمْرًا شاخصً

Fa'il

 

Fa'il

بَابُ اَلْفَاعِلِِ


اَلْفَاعِلُ هُوَ الاسم اَلْمَرْفُوعُ اَلْمَذْكُورُ قَبْلَهُ فِعْلُهُ. وَهُوَ عَلَى قِسْمَيْنِ ظَاهِرٍ, وَمُضْمَرٍ.

فَالظَّاهِرُ نَحْوَ قَوْلِكَ 
قَامَ زَيْدٌ, وَيَقُومُ زَيْدٌ, وَقَامَ الزَّيْدَانِ, وَيَقُومُ الزَّيْدَانِ, وَقَامَ الزَّيْدُونَ, وَيَقُومُ الزَّيْدُونَ, وَقَامَ اَلرِّجَالُ, وَيَقُومُ اَلرِّجَالُ, وَقَامَتْ هِنْدٌ, وَقَامَتْ اَلْهِنْدُ, وَقَامَتْ الْهِنْدَانِ, وَتَقُومُ الْهِنْدَانِ, وَقَامَتْ الْهِنْدَاتُ, وَتَقُومُ الْهِنْدَاتُ, وَقَامَتْ اَلْهُنُودُ, وَتَقُومُ اَلْهُنُودُ, وَقَامَ أَخُوكَ, وَيَقُومُ أَخُوكَ, وَقَامَ غُلَامِي, وَيَقُومُ غُلَامِي, وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

وَالْمُضْمَرُ اِثْنَا عَشَرَ, نَحْوَ قَوْلِكَ 
"ضَرَبْتُ, وَضَرَبْنَا, وَضَرَبْتَ, وَضَرَبْتِ, وَضَرَبْتُمَا, وَضَرَبْتُمْ, وَضَرَبْتُنَّ, وَضَرَبَ, وَضَرَبَتْ, وَضَرَبَا, وَضَرَبُوا, وضربن".



Bab Fa'il

Faa’il adalah isim yang dirafa’kan yang disebut sebelum faa’il itu fi’ilnya. Dan faa’il itu ada dua bagian, yaitu faa’il isim dzhahir dan faa’il isim dhamir.

Maka faa’il isim dzhahir itu seperti contoh

قَامَ زَيْدٌ, وَيَقُومُ زَيْدٌ, وَقَامَ الزَّيْدَانِ, وَيَقُومُ الزَّيْدَانِ, وَقَامَ الزَّيْدُونَ, وَيَقُومُ الزَّيْدُونَ, وَقَامَ اَلرِّجَالُ, وَيَقُومُ اَلرِّجَالُ, وَقَامَتْ هِنْدٌ, وَقَامَتْ اَلْهِنْدُ, وَقَامَتْ الْهِنْدَانِ, وَتَقُومُ الْهِنْدَانِ, وَقَامَتْ الْهِنْدَاتُ, وَتَقُومُ الْهِنْدَاتُ, وَقَامَتْ اَلْهُنُودُ, وَتَقُومُ اَلْهُنُودُ, وَقَامَ أَخُوكَ, وَيَقُومُ أَخُوكَ, وَقَامَ غُلَامِي, وَيَقُومُ غُلَامِي,

Dan Faa’il isim dhamir itu ada 12, yaitu


ضَرَبْتُ, وَضَرَبْنَا, وَضَرَبْتَ, وَضَرَبْتِ, وَضَرَبْتُمَا, وَضَرَبْتُمْ, وَضَرَبْتُنَّ, وَضَرَبَ, وَضَرَبَتْ, وَضَرَبَا, وَضَرَبُوا, وضربن

Bab Maf’ul yang tidak disebut Faa’ilnya (Naaibul faa’il)

Naaibul faa’il adalah isim yang dirafa’kan yang tidak disebut bersamanya faa’ilnya. jika fi’ilnya itu fi’il madhi maka didhammahkan huruf awalnya dan dikasrahkan apa yang sebelum akhirnya dan jika fi’ilnya itu fi’il mudhari’ maka didhammahkan huruf awalnya dan difathahkan huruf yang sebelum akhirnya.

Naa’ibul faa’il itu ada dua, yaitu Naaibul faa’il isim dzhahir dan naaibul faa’il isim dhamir.

Naaibul faa’il isim dzhahir itu contohnya


ضُرِبَ زَيْدٌ" وَ"يُضْرَبُ زَيْدٌ" وَ"أُكْرِمَ عَمْرٌو" وَ"يُكْرَمُ عَمْرٌو

dan naaibul faa’il isim dhamir contohnya

ضُرِبْتُ وَضُرِبْنَا, وَضُرِبْتَ, وَضُرِبْتِ, وَضُرِبْتُمَا, وَضُرِبْتُمْ, وَضُرِبْتُنَّ, وَضُرِبَ, وَضُرِبَتْ, وَضُرِبَا, وَضُرِبُوا, وضُربن

Fi’il Mulhaq Ruba’i Mujarrod dan Mulhaq Ruba’i Mazid

Fi’il Mulhaq Ruba’i Mujarrod dan Mulhaq Ruba’i Mazid Selain dari Fi’il Tsulatsi dan Fi’il Ruba’i, maka ada lagi yang disebut Mulhaq Ruba’i. ...